Keempat, puasa di hari Tasu’a pada 9 Muharram dan puasa 11 Muharram menjadi pelengkap puasa Asyura pada 10 Muharram sekaligus menjadi pembeda umat Islam dengan umat Yahudi yang sama-sama berpuasa di hari Asyura.
Hal ini sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibnu Abbas, “Puasalah kalian pada hari Asyura dan bedakan dengan kaum Yahudi, puasalah kalian sehari sebelum atau sesudahnya’.” (HR Ahmad).
Puasa Asyura adalah amalan khusus yang ada di bulan Muharram. Keutamaan mengerjakan puasa Asyura ini tidak perlu diragukan lagi.
Lalu, bagaimana melakukan niat puasa Asyura yang tepat?
Dikutip dari laman resmi BAZNAS, puasa Asyura adalah puasa sunnah yang dianjurkan, dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Bahkan Rasulullah Saw, senantiasa memberikan perhatian lebih besar pada puasa ini dibandingkan puasa-puasa lainnya.
Ketika Rasulullah Saw berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan orang agar berpuasa padanya, mereka berkata, “Ya Rasulullah, ia adalah suatu hari yang dibesarkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.” Maka Rasulullah Saw bersabda, “Jika datang tahun depan, insyaallah kita berpuasa juga pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas berkata, “Maka belum lagi datang tahun berikutnya itu, Rasulullah Saw pun wafat.” (HR. Muslim dan Abu Dawud).
Sementara itu, selain puasa ini adalah puasa utama yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw. Puasa Asyura adalah puasa yang dengan keutamaannya dapat menghapuskan dosa setahun sebelumnya.
Seperti dalam sabda Rasulullah Saw, yang berbunyi: Rasulullah ditanya tentang puasa Asyura, beliau menjawab, “dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim). (*)





