Dari kesaksiannya, kapal yang tenggelam itu milik orang Tanjung Redeb. Hingga kemarin, kapal belum bisa dievakuasi dan masih berada di perairan Sangalaki.
“Kami sudah mengamankan sekitar 40 karung dari masyarakat Tanjung Batu. Tapi, saat ini masih banyak pakaian yang terhambur di Pulau Sangalaki,” tutur Koko kepada Berau Post pada Jumat lalu (29/6).
Polisi, lanjut Koko, juga masih menyelidiki pemilik barang atau kapal yang belum diketahui identitasnya. “Karena saat kapal tenggelam, langsung ditinggalkan para ABK (anak buah kapal),” katanya.
Jenis baju bekas yang mencemari perairan Pulau Sangalaki itu beragam. Mulai baju anak-anak sampai dewasa. Baik perempuan maupun laki-laki. Penyelaman pada Sabtu lalu itu dihentikan setelah speedboat tak lagi muat.
Agus pun meminta dukungan dari para diver lain, juga para pemilik resor, untuk membantu penyelaman guna menyelamatkan terumbu karang Sangalaki. “Tidak sanggup kalau kami semua. Makanya, saya sudah minta para penyelam di Berau berpartisipasi,” katanya.
Kalau tidak segera teratasi, dikhawatirkan bakal sangat berdampak pada citra Sangalaki dan Kepulauan Derawan secara umum. Apalagi, umumnya, wisatawan datang ke Sangalaki untuk menyelam. “Saya akan berkoordinasi dengan dinas perikanan dan dinas pariwisata juga,” kata Agus.



