“Jauh lebih mungkin tetap dengan PDIP, dan kekuatan Gibran terlihat saat Jokowi masih berkuasa, sementara jika tanpa kekuasaan Jokowi, PDIP sendiri bisa saja ragu dengan peluang Gibran,” demikian kata Dedi kepada Kantor Berita Politik RMOL (jaringan radar sukabumi), Rabu (12/1).
Lebih lanjut, Dedi menganalisa, selama ini Jokowi masih mempunyai daya tawar politik di hadapan PDIP. Sebab popularitas dan elektabilitas Jokowi juga telah memberi magnet bagi pemilih PDIP.
Jasa politik Jokowi itu, kata Dedi tidak akan membuat PDIP lupa dengan peran Presiden dua periode itu. “Persoalannya, kontestasi Pilkada dimungkinkan Jokowi sudah tidak lagi berkuasa, sehingga situasi bisa berubah, PDIP kembali lebih kuat dibanding Jokowi,” pungkas Dedi.






