NASIONAL

Jadi Ajang Ikrar Warga NU dan Santri

×

Jadi Ajang Ikrar Warga NU dan Santri

Sebarkan artikel ini

”Supaya orang-orang yang dholim pada Indonesia, Aswaja, Palestina, Suriah, Afganistan, mugo-mugo tukaran sakkarepe dewe (bertengkar sendiri),” katanya.Dia menyebut, karena aswaja, seluruh pelaksanaan kegiatan agama di Indonesia selalu aman meski melibatkan massa besar. ”Tak ada acara haul yang dihadiri 200 ribu jamaah yang tidak aman di Indonesia,” katanya.

Hal itu, kata Marzuki tak mungkin terjadi di negara-negara yang rawan konflik seperti Suriah, Irak, dan sejumlah negara lain. Selain itu, Indonesia juga adalah negara dengan jumlah muslim terbanyak. ”Karena itu, kalau ada yang melawan Aswaja, maka itu melawan NKRI. Cinta Islam, berarti cinta Indonesia,” katanya.

Bank bjb Tandamata

Pengasuh Ponpes Sabilurrosyad (Malang) itu juga menyinggung soal pro-kontra soal bendera/atribut keagamaan yang tengah terjadi akhir-akhir ini. ”Orang beriman atau tidak, adalah tergantung hatinya,” katanya.

Karena itu, meski setiap umat memiliki bendera-bendera/atribut yang berbeda, hal itu bukan alat ukur. ”Meski benderanya Bonek, LA Mania, Lobster, atau pun Aremania, yang penting hatinya bertauhid,” katanya.Dalam kesempatan itu, Marzuki juga mengajak para jamaah untuk membaca ikrar santri secara bersama. Tercatat, ada lima poin ikrar terkait antisipasi munculnya perlawanan NKRI.

Pada Istighotsah Kubro, para santri yang hadir juga diajak membacakan ikrar santri. Yang ditunjuk untuk memipin adalah Muhaimin Iskandar yang hari itu didaulat sebagai panglima santri.Sementara itu, pada Istighotsah tersebut, KH Ma’ruf Amin mengajak umat muslim menjadikan hari santri sebagai inspirasi. ”Untuk menyiapkan diri dalam menjaga negara, agama, dan aswaja,” ujarnya.

Mantan Rais Am PBNU itu juga menyinggung soal tantangan santri milenial. ”Tak hanya bisa membaca huruf Quran, kitab, santri harus bisa membaca huruf Allah dalam tatanan kehidupan. Baik itu ekonomi, sosial, budaya dan lainnya,” katanya.