NASIONAL

Ini Respons Kemenkes Soal Aplikasi PeduliLindungi Langgar HAM

×

Ini Respons Kemenkes Soal Aplikasi PeduliLindungi Langgar HAM

Sebarkan artikel ini
Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi
Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi. (Istimewa)

JAKARTA — Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) yang menduga terjadi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terkait privasi publik terkait penggunaan aplikasi PeduliLindungi.

Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan sejak pertama kali diluncurkan pada Maret 2020, aplikasi PeduliLindungi melalui fitur kewaspadaan telah berhasil melakukan upaya pencegahan pasien Covid-19 dan warga yang berisiko berkeliaran di tempat umum sehingga dapat menulari warga lainnya.

Bank bjb Tandamata

Aplikasi ini sudah diunduh oleh lebih dari 90 juta orang dan telah membantu mencegah warga yang terinfeksi mengakses fasilitas dan tempat umum seperti pusat perbelanjaan, airport, pelabuhan, hotel, dan gedung perkantoran.

“Aplikasi PeduliLindungi yang telah diunduh pasien positif Covid-19 akan berwarna hitam ketika aplikasi tersebut dipindai di pintu masuk tempat umum sehingga petugas keamanan dapat mencegah masuk pasien tersebut, lalu melaporkan yang bersangkutan ke Satgas Covid-19 untuk ditangani lebih lanjut,” ujar Nadia dalam keterangannya, Sabtu (16/4).

Menurut Nadia, sepanjang 2021-2022, PeduliLindungi telah mencegah 3.733.067 orang dengan status merah (vaksinasi belum lengkap) memasuki ruang publik dan telah mencegah 538.659 upaya orang yang terinfeksi Covid-19 (status hitam) melakukan perjalanan domestik atau mengakses ruang publik tertutup.

“PeduliLindungi turut berkontribusi pada rendahnya penularan Covid-19 di Indonesia dibanding negara tetangga dan bahkan negara maju. Aplikasi ini memiliki peran yang besar dalam menekan laju penularan saat kita mengalami gelombang Delta dan Omicron,” katanya.

Karena itu, Nadia mengeluhkan adanya tuduhan pelanggaran HAM di aplikasi PeduliLindungi dari Kementerian Luar Negeri AS.