NASIONAL

Ini Kata Fahri Hamzah, Soal Andi Arief Isap Sabu

RADARSUKABUMI.com, JAKARTA – Penangkapan Andi Arief terkait kasus pemakaian sabu di sebuah kamar Hotel Menara Peninsula, Slipi, Jakarta Barat, disesalkan banyak pihak.

Di sisi lain, kubu Prabowo-Sandi tetap memberikan berbagai macam pembelaannya. Bertubi-tubi pembelaan dilontarkan.

Terbaru, pembelaan datang dari Fahri Hamzah. Menurutnya, kasus politisi yang pernah mencuitkan hoax 7 kontainer surat suara tercoblos itu tak perlu dibesar-besarkan.

Demikian disampaikan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (5/3/2018).

Sebaliknya, sejatinya masalah yang menimpa koleganya itu seharusnya bisa diselesaikan tanpa harus membuat gaduh publik.

“Andi Arief kan cuman makan pil begitu kan satu (butir). Katanya juga enggak ada alat buktinya. Yasudah lah, itu kan bisa selesaikan di belakang. Enggak usah konfrensi pers,” kata Fahri.

Fahri menilai, banyak kasus-kasus mencuat sejatinya bisa diselesaikan tanpa harus membuat gaduh publik.

Contohnya saja, kasus Ahmad Dhani yang sedang terjerat pidana ihwal ujaran kebencian dan pencemaran nama baik.

“Itu kan sebenernya bisa diselesaikan tanpa harus ramai kaya begini. Padahal kita tahu, Andi Arief ini lagi kritis sama pemerintah,”

“Suka atau tidak, pemerintah rusak namanya gara-gara kasus Andi Arief ini,” tuturnya.

Politisi yang juga Wakil Ketua DPR RI itu menambahkan, mantan staf khusus era Presiden SBY itu disebutnya sebagai sosok kritikus yang vokal menyuaran kebenaran.

Karena itu, dirinya tidak mau kasus politisi yang mempopulerkan istilah ‘jendral kardus’ itu dipersepsikan masyarakat sebagai upaya pemerintah membungkam kritikus.

“Apa yang dilakukan ini merugikan incumbent. Bisa kalah petahana gara-gara ini,”

“Saya juga khawatir ini yang disebut oleh pak Prabowo tentang jangan sampai ada operasi intelijen untuk menegakan hukum. Nanti malah kacau ini,” pungkasnya.

Penangkapan Andi Arief karena mengisap sabu menjadi ‘pukulan telak’ bagi Partai Demokrat sekaligus kubu Prabowo-Sandi.

Pasalnya, ia adalah Wakil Sekjen Partai Demokrat yang berkoalisi dengan pasangan capres-cawapres dari koalisi oposisi tersebut.

Saat ini, Partai Demokrat sendiri bersiap melakukan konsolidasi internal menyikapi kasus narkoba politisi yang mempopulerkan istilah ‘jendral kardus’.

Selanjutnya, partai berlambang bintang mercy itu akan menentukan sikap sekaligus mengambil keputusan terkait nasib mantan staf khusus era Presiden SBY itu.

Karena itu, Partai Demokrat meminta publik agar bersabar. Saat ini, pihaknya masih menunggu keputusan dari Komandan Kogasma, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Demikian disampaikan Wasekjen Partai Demokrat, Putu Supadma Rudana di komplek DPR RI Senayan, Jakarta, Selasa (5/3/2019).

“Siang ini Sekjen kami sedang bekerja. Mas AHY sedang di Aceh sedang melakukan konsolidasi. Kami akan menunggu komandan Kogasma sebagai pemegang keputusan tertinggi partai kami sekarang,” ujar Putu.

Putu menuturkan, Demokrat akan menyikapi masalah ini secara proporsional. Sikap yang diambil dipastikan atas dasar keputusan bersama DPP.

“Kita selalu dalam prinsipnya melihat secara jernih permasalahan ini. Dan nantinya semuanya keputusan itu kami serahkan kembali kepada Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat,” jelasnya.

Bagi Putu, Demokrat sudah terbiasa menghadapi situasi sulit. Sekalipun demikian, dia optimistis partai besutan SBY akan bisa melewatinya dengan baik dan fokus pada tujuan partai.

“Kami akan kembali fokus pada target partai meraih 10 persen suara di pileg 2019,” jelas dia.

Di sisi lain, Anggota Komisi X DPR RI itu menegaskan, jika perbuatan Andi merupakan representasi pribadi bukan partai. Ia pun menghormati proses hukum yang berjalan.

“Kondisi ini adalah kondisi yang bisa terjadi kepada siapapun. Kita mendoakan sahabat kita ini yang menjadi korban penggunaan narkoba,”

“Beliau (Andi) ini agar juga diberikan kekuatan, dan kita menghormati proses hukumnya,” pungkas Putu.

(jpg/ruh/pojoksatu)

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button