Indonesia Masa Depan 4 (habis) : Mencari Pemimpin Bervisi Agromaritim

Hazairin Sitepu (Bang HS) berdiskusi dengan
Hazairin Sitepu (Bang HS) berdiskusi dengan Rektor IPB University Prof Dr Arif Satria

MASA depan kehidupan ada di biomaterial. Potensi masa depan itu berlimpah di lautan dan daratan Indonesia. Semua ada di situ. Karena itu, kita butuh pemimpin masa depan yang memiliki visi agromaritim. Diskusi Indonesia Masa Depan Bang HS dengan Prof Dr Arif Satria membahas persoalan besar kehidupan itu. Berikut kutipannya:

Kekayaan sumber daya alam bisa menjadi kekuatan besar bangsa ini. Asalkan dikelola dengan tepat dan mendapat dukungan pemerintah serta semua pihak. Sektor pertanian dan agromaritin diyakini mampu menyelesaikan banyak masalah kehidupan. Simak diskusi panjang Hazairin Sitepu (Bang HS) dengan Prof Arif Satria berikut.

Bacaan Lainnya

Bang HS: Kalau kita melihat saat ini, dunia pertanian dan perikanan sepertinya kurang menarik bagi anak-anak muda, bagi kaum remaja. Seharusnya seperti apa supaya ini bisa menarik. Bisa populer di kalangan mereka? Supaya mereka juga nanti setelah lulus dari IPB, misalnya, bisa kembali (bekerja/berusaha di sektor pertanian, kelautan dan perikanan).

Prof Arif Satria: Betul Mas HS. Saat ini banyak orang berminat di dunia pertanian. Milihnya pertanian. Tapi masuknya di sektor-sektor trading. Yang masuk di produksi padi, sawah, minim sekali. Justru saya mengkhawatirkan produksi sawah itu. Masalahnya regenerasi petani sawah. Bukan petani sayur-sayuran. Karena teknologi hidroponik, aquaponik sudah banyak. Dan sekarang banyak pelaku baru masuk. Tapi yang nyemplung di sawah (tidak ada)? Kalau saya pulang mudik lihat sawah, (hati saya bertanya) 10 tahun lagi siapa yang jadi petani?

Bang HS: Usia mereka sudah tua-tua. Dan ini PR besar.

Prof Arif Satria: Makanya saya katakan, teknologi 4.0 teknologi mekanisasi disiapkan dari sekarang. Karena sekarang rata-rata petani usia 48 tahun. 10 tahun lagi 58 tahun. Anak-anaknya tidak mau jadi buruh tani. Mungkin mau jadi owner. Kalau buruh tani tidak ada, teknologi tidak siap, terus siapa yang mengerjakan?

Bang HS: Lalu solusinya apa?

Prof Arif Satria: Kita butuh regenerasi petani dalam arti mendongkrak citra petani. Karena tren di dunia, citra petani itu tidak seindah yang lain. Di Jepang, misalnya, kenapa terjadi krisis nelayan? Karena faktornya perempuan. Hasil survei (di sana), perempuan Jepang tidak mau menjadi istri nelayan. Jadi selera perempuan berpengaruh pada regrenerasi nelayan di sana. Jadi kalau orang tidak mau jadi petani dan nelayan, takut tidak dapat istri.

Bang HS: Ini persoalan serius.

Prof Arif Satria: Ini faktor sosiologis. Karena menjadi nelayan dan petani di Jepang subsidinya tinggi. Gaji lebih tinggi dari sektor formal. Tapi warga tidak masuk lagi ternyata ada faktor sosiologis. Kalau di Indonesia, faktor sosiologis dan (juga) ekonomi. Tapi sekarang era 4.0 semua orang mulai bergairah. Sekarang lebih mudah memotong rantai pemasaran karena semua serba platform. Ada TaniHub, Aruna. Jadi orang-orang muda sudah mulai tertarik, tapi perlu digenjot lagi untuk lebih kencang lagi.

Bang HS: Bagaimana Anda melihat langkah pemerintah?

Prof Arif Satria: Pemerintah sekarang banyak mendorong program magang di bidang pertanian di Jepang, Thailand. Mereka pulang ke Indonesia sudah punya skill, punya mental bagus, punya modal. Karena gaji lumayan besar di sana. Saat pulang, mereka diarahkan menjadi pelaku-pelaku baru. Saat ini memang belum kelihatan program yang sistematis untuk menampung mereka-mereka yang pulang magang untuk mengarahkan menjadi pelaku-pelaku baru di sektor ini. Inilah yang harus didorong.

Bang HS: Apakah IPB melakukan itu?

Prof Arif Satria: Termasuk kami di IPB. Sekarang ada mahasiswa baru, kita lakukan talent mapping atau minat bakat mahasiswa. Hasilnya: 31 persen mahasiswa ingin menjadi pengusaha.

Bang HS: Sejumlah 31 persen mahasiswa ingin menjadi pengusaha?

Prof Arif Satria: Artinya, kan itu bagus. Sehingga saya di IPB bersama tim membuat yang namanya program mapping kemudian pembekalan kewirausahaan. Tahun kedua mulai ada business planning. Tahun ketiga ada business mentoring. Tahun keempat business incubation. Jadi ada inkubator bisnis untuk para mahasiswa yang memang ingin bergerak di bidang pertanian. Ini kalau bisa kampus-kampus yang menerapkan. Kita menciptakan pengusaha-pengusaha di kampus itu by design. Bukan by accident.

Bang HS: Apa alasan mereka ingin jadi pengusaha?

Prof Arif Satria: Selama ini kan orang jadi pengusaha itu: satu, karena IPK tidak cukup. Kedua, terkena PHK. Ketiga, mertuanya kaya. Kan begitu.

Bang HS: IPB memfasilitasi itu?

Prof Arif Satria: Orang ingin jadi pengusaha harus difasilitasi. Sehingga kita punya leadership, interpreneurship school, CEO school, start up school. Sekarang kita bangun lagi pusat kewirausahaan mahasiswa.

Bang HS: Apa saja yang diajarkan di lembaga-lembaga itu?

Prof Arif Satria: Mahasiswa mau bisnis, ya, di situlah ada co-working space. Silakan adu argumen masing-masing. Kita juga ada lahan IPB yang bisa dimanfaatkan untuk latihan berbisnis, latihan untuk manfaatkan teori dan sebagainya. Hal-hal itu yang kita dorong dan kita selalu mempromosikan pelaku usaha itu sesuatu yang sangat mulia karena menciptakan lapangan kerja.

Bang HS: Prof Arif, tadi sudah sebegitu komprehensif ya, banyak hal yang ternyata bisa dibuat lebih populer. Sektor pertanian, kelautan, dan sektor pangan. Persoalannya ternyata banyak. Kira-kira pemimpin seperti apa di masa depan yang bisa memecahkan persoalan-persoalan besar itu sehingga negara kita ini bisa lebih kompetitif dengan negara-negara lain terutama di kawasan?

Prof Arif Satria: Ya, kita cari pemimpin yang mempunyai visi agromaritim. Yang punya visi untuk menguatkan sektor agromaritimnya, sektor pertanian, perikanan, kelautan, perternakan, kehutanan dan sebagainya. Dan sadar masa depan itu ada di bio. Semua ke depan serba bio. Artinya berbasis pada sesuatu yang sifatnya dari biomassa, dari tumbuhan, ada juga dari perikanan, dari makhluk hidup. Sustainability kehidupan itu karena kekuatan bio. Karena apa? Karena barang-barang tambang akan habis.

Bang HS: Apakah itu akan banyak menyelesaikan masalah?

Prof Arif Satria: Coba sebutkan yang non renewable resources, akan habis semuanya. Sekarang yang tidak habis apa? Ya, yang renewable resources. Renewable resources itu apa? Ya, tanaman. Ya hewan. Makanya saya katakan tadi, pertanian itu: pangan harus, energi, kesehatan, biomaterial. Sehingga hal apa pun bisa diambil dari sektor pertanian. Sektor pertanian bisa menyelesaikan banyak masalah. Masalah kehidupan ini.

Bang HS: Apa yang dibutuhkan untuk menguatkan sektor pertanian ini?

Prof Arif Satria: Jika kita bicara sektor pertanian dalam masa depan, itu membutuhkan riset-riset yang lebih kuat lagi untuk biomaterial. Sekarang kita menemukan rompi antipeluru dari limbah sawit. Limbah sawit yang sudah tidak dipakai dibuat rompi antipeluru. Kekuatannya sama dengan baja dan sebagainya. Sekarang kita produksi helm, dari limbah sawit.

Bang HS: Dan itu ada di sini?

Prof Arif Satria: Di sini. Sawitnya ada. Banyak. Dan IPB sudah punya teknologi untuk helm. Kita sudah pasarkan sekarang. Itu contoh biomaterial. Pertanian untuk biomaterial itu sangat menjanjikan. Karena itu butuh riset yang mendalam. Untuk bisa sampai menemukan bagaimana pelapis pesawat chitosan untuk antiradar, itu membutuhkan riset yang mendalam.

Bang HS: Terkait dengan kendaraan listrik?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.