Hibur Anak Korban Gempa, Kak Seto Sulap Kertas Jadi Payung

  • Whatsapp

RADARSUKABUMI.com, PALU – Seto Mulyadi alias Kak Seto membuat riuh suasana di dalam tenda Sekretariat Bersama Perlindungan Anak Pasca Gempa-Tsunami Palu dan Donggala di halaman kantor dinas sosial Sulawesi Tengah, Jumat (5/10) kemarin.

Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia itu unjuk kebolehan bermain sulap. Salah satunya menyulap kertas menjadi payung.

Bacaan Lainnya

Selain Kak Seto, ada juga Sekjen LPAI Henny Rusmiati yang membuat anak-anak melompat dan bernyanyi bersama di dalam salah satu tenda berukuran besar di area posko induk tersebut.

Tak ada ketakutan di wajah mereka. Semua seolah larut dalam kegembiraan. Sejam lebih anak-anak itu bergerak. Mereka terus mengikuti “perintah” Henny yang bak guru taman kanak-kanak (TK) bagi bocah-bocah itu.

Total, ada 22 anak yang terlibat dalam kegiatan trauma healing tersebut. “Ayo, siapa yang mau ikut kuis? Tapi ikuti dulu Kak Henny ya!,” kata Henny memancing anak-anak itu agar terus bergerak. “Saya, saya,” teriak anak-anak itu bersahutan.

Pemulihan trauma itu baru kali pertama digelar di area pengungsian korban bencana gempa-tsunami Palu. Seto dan Henny diundang Kementerian Sosial (Kemensos) untuk menghibur anak-anak agar tidak larut dalam kesedihan. Dan bersemangat kembali bermain seperti lazimnya anak-anak. “Para orang tua jangan menunjukan stresnya di hadapan anak-anak,” kata Seto usai menghibur anak-anak itu.

Trauma healing itu adalah bagian layanan dukungan psikososial (LDP) Kemensos. Seto mengatakan, anak-anak rentan mengalami stres ketika dihadapkan persoalan pelik seperti bencana gempa-tsunami di Palu. Kondisi psikologis anak-anak butuh “diobati”. “Stres segala macam akhirnya bisa membuat (anak) sakit,” tutur Seto kepada Jawa Pos.

Pemulihan psikologis anak itu akan digelar kembali. Namun, bukan hanya Seto dan Henny yang menyambangi ratusan posko pengungsian. Mereka akan dibantu para relawan yang lebih dulu mengikuti pelatihan trauma healing. “Kami tidak satu-satu menangani (trauma healing, Red), kami memberikan pelatihan kepada para relawan agar bisa menyebar serentak,” paparnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *