“Jadi tuh ide yang disampaikan tentang ilmu yang bisa digunakan buat masa depan. Sementara beberapa dari kami menyiapkan hanya yang sesuai tema saja,” tuturnya yang meraih medali emas dalam lomba presentasi poster.
Siswi lainnya, Nasywa Salsabila, menceritakan saat dirinya kesal dengan salah satu peserta asal Filipina yang enggan bekerja secara kelompok dalam lomba kategori presentasi team project. Dalam lomba tersebut, setiap siswa digabungkan dengan siswa dari negara lain menjadi satu kelompok, kemudian membuat karya sesuai tema, namun dapat diaplikasikan ke masa depan.
“Dia itu lucu, yang lain pada kerja bareng-bareng. Dia malah nyuruh kami (Nasywa dan siswa lain satu kelompok) buat main aja. Dia bilang biar dia saja yang kerjain,” ceritanya.
Dalam lomba ini, tim Indonesia meraih empat medali emas, serta masing-masing tiga medali perak dan perunggu pada kategori non arsitektur. “Kalau untuk keseniannya, sudah dipersiapkan dua minggu sebelum berangkat ke Korea. Tapi kami bersyukur karena Indonesia yang berangkat dua tim dari Jateng dan Jakarta bisa dibilang juara umum,” terangnya.
Samantha Raisha Ramadhani mengaku tak menyangka akan mendapatkan medali emas. Sebab, persiapan materinya tidak begitu matang dan waktunya singkat. “Persiapannya hanya H-1 sebelum berangkat,” akunya.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bunyamin mengapresiasi prestasi yang diraih para siswa tersebut. Ia berharap, ke depannya pendidikan dan kebudayaan bisa menjadi salah satu nilai jual Kota Semarang.(sm/tsa/ida/JPR)



