Bocah 14 Tahun Melahirkan Bayi, Potret Buram di Hari Anak

Ilustrasi melahirkan anak
Foto Ilustrasi (Dok Jawa Pos)

TUBAN — Usia Mawar (bukan nama sebenarnya) baru menginjak 14 tahun. Masih pelajar setingkat SMP. Namun, Selasa (19/7) lalu, bocah asal Kecamatan Plumpang, Tuban, Jawa Timur, tersebut telah melahirkan. Seorang bayi laki-laki. Bobotnya 2,9 kilogram.

Mawar dihamili seorang berinisial AH. Laki-laki berusia 21 tahun. Dia disebut anak ustad. Pemilik sebuah tempat mengaji. Lokasinya pun di desa wilayah Kecamatan Plumpang, Tuban. Tapi, kasus ini tidak sampai ke proses hukum. Keluarga Mawar memilih jalan kekeluargaan. Pernikahan dini, pada 23 Juli lalu. Bersamaan dengan peringatan Hari Anak Nasional (HAN).

Bacaan Lainnya

Awalnya, kasus bocah 14 tahun yang sudah melahirkan tanpa suami itu kali pertama beredar di sebuah grup media sosial Facebook. Viral. Kemudian, menjadi pergunjingan. Meluas. Maklum, mungkin baru terjadi di wilayah itu. Bocah seusia itu, tapi sudah melahirkan seorang bayi. Kabar itupun sampai ke Polres Tuban.

Kasatreskrim Polres Tuban AKP M. Gananta mengatakan, pihaknya sudah mendatangi keluarga korban pada Jumat (22/7) malam untuk memastikan kabar tersebut. Ternyata, kabar itu tidak salah. Namun, setelah mediasi yang berlangsung hingga larut malam, akhirnya muncul keputusan. Korban dan pelaku dinikahkan.

Saat petugas mendatangi lokasi, lanjut Gananta, keluarga korban menolak untuk melaporkan kasus tersebut ke polisi. Katanya, AH dan Mawar sudah berpacaran. Karena itu, pihak keluarga Mawar meminta pertanggungjawaban dari AH untuk menikahi.

‘’Dari informasi mereka, persetubuhan yang dilakukan antara AH dan Mawar itu didasari suka sama suka. Kemudian diketahui orang tua Mawar, kalau anaknya hamil,’’ tutur Gananta seperti dilansir Jawa Pos Radar Tuban.

Mantan Kasatreskrim Polres Tanjung Perak itu mengungkapkan, orang tua AH pun telah menyanggupi untuk menikahkan anaknya dengan Mawar. Pada 22 Juli, yang bersangkutan sudah mendaftarkan pernikahan mereka ke Pengadilan Agama (PA) Tuban. Lalu, pernikahan digelar pada Sabtu (23/7) malam di lingkungan ponpes.

‘’Sambil menunggu surat resmi dari pengadilan agama keluar, pernikahan siri antara keduanya telah dilakukan,’’ ucap mantan Kepala Unit Reg Ident Satlantas Polres Tuban itu.

Gananta menambahkan, AH dan Mawar menjalin hubungan pacaran sejak satu tahun terakhir. Keduanya sering keluar bersama. Nongkrong atau jalan-jalan berdua. Karena itu, sulit membuktikan persetubuhan yang berujung kelahiran bayi itu sebagai bentuk tindak kekerasan seksual. ‘’Hubungan yang terjadi antar mereka dilandasi suka sama suka,’’ ungkapnya.

Pihak keluarga Mawar, sebut Gananta juga sudah membuat surat pernyataan tertulis. Isinya, meminta kasus persetubuhan anaknya dengan AH itu tidak diproses hukum. Sebab, perkara sudah ada jalan keluar yang diselesaikan secara kekeluargaan. ‘’Dari keluarga laki-laki maupun perempuan tidak ada yang menyatakan keberatan dengan mediasi kekeluargaan ini,’’ ungkap perwira kelahiran Bojonegoro itu.

Pernikahan Dini di Tuban

Kasus Mawar itupun menambah panjang daftar pernikahan dini di wilayah hukum Tuban. Sebelumnya, sesuai UU Nomor 1 Tahun 1974, pemerintah hanya mengatur batas usia minimal perempuan untuk menikah adalah 16 tahun. Kemudian, UU itu direvisi dengan UU 16/2019.

Pos terkait