Yang pasti, kami berharap agar dibuka kembali. Karena walaupun itu betul tanah milik Stukpa, tapi selama ini warga tidak mengganggu dan hanya melintas saja,” tutupnya.
Hal senada disampaikan Didi (62), warga sekitar yang juga cukup kecewa denga pemblokiran gang itu. Menurutnya, selama dirinya tinggal di kampung itu baru kali ini dilakukan pemblokiran. Padahal, akses itu amat penting bagi warga, pedagang keliling maupun yang melintas.
“Tidak habis pikir memang. Baru kali ini di blokir seperti ini. Seharusnya jika ada masalah, dibicarakan baik-baik dengan kami (warga,red). Tapi kami tidak bisa berbuat banyak,” singkatnya.
Dihubungi terpisah, Kepala Setukpa, Brigjen Agus Suryatno membenarkan pemblokiran tersebut. Menurutnya, hal itu terpaksa dilakukan karena warga dinilainya tak berempati.
“Di dekat jalan gang itu kan ada kos-kosan perempuan semua. Di situ pacarnya pada tidur yang pakai mobil diparkir di tempat kita (area asrama). Dikasih tahu sekali dua kali enggak mau tahu,” kata Brigjen Agus Suryatno.
Pihaknya terpaksa akhirnya menutup jalan dengan pagar dan digembok. Namun menurutnya, warga malah menjebol pagarnya. “Kan kurang ajar itu namanya. Main jebol gitu aja. Ya sudah berarti tidak bisa kita kasih kesempatan dan kebijakan yang baik. Jalan ini kita tutup untuk asrama,” tegas Agus.
(upi/d)



