SUKABUMI – Cinta menjadi segmen gimmick yang dipilih Popi (32) untuk memutuskan berbisnis di sektor kuliner di Kota Sukabumi. Bakso Asmara adalah nama usaha UMKM yang ia pilih sejak dibuka tahun 2018 lalu.
Popi mengatakan, Bakso Asmara tersebut menjual beragam jenis bakso yang tidak hanya menggugah selera tetapi juga menyuguhkan konsep yang unik. “Menu di sini ada banyak, yang utama pasti bakso dengan isi yang berbeda. Ada Bakso Cinta, Bakso Original, dan juga Mie Ayam,” kata Popi.
Keunikan dari bakso-bakso yang dijual, menurutnya, terletak pada variasi bentuk dan isi. Bahkan, beberapa menu disajikan di hotplate untuk memberikan pengalaman makan yang berbeda.
Lokasi Bakso Asmara sendiri berada di sekitaran kampus Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI). Sehingga konsumennya mayoritas dari kalangan mahasiswa dan anak muda.
Nama “Bakso Asmara” sendiri bukan tanpa alasan. Konsep ini dipilih berdasarkan riset pasar dan keinginan untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda.
“Awalnya kita riset dulu, bakso seperti apa yang disukai orang. Lalu saya ingin punya konsep yang beda, berawal dari nama ‘Bakso Asmara’, baru kita kembangkan menunya seperti Bakso Cinta, Bakso Patah Hati, dan lainnya,” jelas Popi.
Soal harga, Bakso Asmara cukup ramah di kantong mahasiswa. Harga bakso mulai dari Rp17.000, sedangkan mi ayam dibanderol Rp13.000. Seluruh bakso diproduksi sendiri untuk menjaga kualitas dan keaslian rasa, sementara bahan bakunya diperoleh langsung dari pasar tradisional.
Saat ini, Bakso Asmara hanya memiliki satu cabang di sekitar kampus UMMI. Meskipun sempat mengalami pasang surut terutama saat pandemi COVID-19, usaha ini tetap bertahan dengan omzet yang kini berkisar antara Rp40 juta hingga Rp50 juta per bulan. Dalam kondisi menurun seperti saat ini, penjualan bisa mencapai sekitar 100 porsi per hari.
Menurut Popi, faktor eksternal seperti kondisi ekonomi nasional sangat memengaruhi naik turunnya pendapatan. “Kalau sekarang, lebih terasa dari segi ekonomi. Bukan karena internal, karena kualitas selalu kita jaga. Tapi eksternal seperti pandemi dan daya beli masyarakat sangat memengaruhi. Kita harus bisa menyesuaikan dengan situasi,” ujarnya. (***)
Penulis: Meidina Fauziyyah, mahasiswa magang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Sukabumi




