Bagi Nachrowi, RAT merupakan satu wadah untuk menyampaikan aspirasi dan introspeksi, hingga menyusun program. Ia pun meminta, hal baik harus dipertahankan, dan yang jelek harus diperbaiki, agar organisasi koperasi terus berkembang.
“RAT juga bukan ajang untuk saling menyalahkan, namun sarana untuk saling mendukung dan melengkap,” tegas Nachrowi.
Diakui Ketua KSP Kodanua Soepriyono, yang akan menjadi perhatian pihaknya ke depan, adalah perubahan pola konsumsi dan perkembangan IT di semua sektor. “Selain itu, tahun ini hingga 2019 merupakan tahun politik yang sedikit banyak akan berpengaruh terhadap pertumbuhan KSP Kodanua,” yakinnya.
Menyoal ini, peneliti ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus menuturkan, keberadaan koperasi jelas telah memberikan kesejahteraan bagi anggotanya. Berbagai layanan usaha koperasi ada simpan pinjam, toko, jasa, produksi yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air.
Namun ia meliha koperasi masih memiliki berbagai hambatan. Selain hambatan utama koperasi adalah permodalan, koperasi dituntut untuk terus berkembang, baik dari sisi teknologi maupun manajemen.
“Dengan memanfaatkan energi lokal dan menerapkan teknologi tepat guna, koperasi akan menjadi wadah institusi yang kuat dan lengkap. Sehingga dapat memberikan kontribusi aktif dalam pengembangan industri dan ekonomi secara nasional,” ujarnya.
Apalagi di era digital economy sekarang ini, lanjutnya, koperasi harus siap menyesuaikan diri terhadap perkembangan teknologi. “Bila koperasi di Indonesia ingin maju, prinsipnya bagaimana bisa mewujudkan kesejahteraan anggota koperasi melalui digital economy,” ujarnya.
Hal lain yang tak kalah penting, imbuh Ahmad, koperasi seperti halnya organisasi yang lain membutuhkan manajemen yang baik agar tujuan koperasi tercapai dengan efisien.(rmol)




