Meski demikian, Abah Alam menegaskan jati diri Sukabumi sebagai bagian dari Tatar Sunda tidak pernah hilang. Nilai budaya seperti bahasa, aksara, dan falsafah silih asih tetap mengakar kuat. Ia juga menyinggung peran pemerintah daerah agar lebih proaktif memperjuangkan eksistensi budaya Sukabumi di tingkat provinsi maupun nasional. “Pemerintah daerah jangan hanya menjadi penonton. Harus ada upaya serius untuk mendorong Sukabumi tampil dalam agenda budaya besar seperti ini. Jangan sampai sejarah besar kita justru dilupakan,” tegasnya.
Ia menutup dengan penegasan bahwa Sukabumi memiliki posisi penting dalam perjalanan Tatar Sunda dari masa ke masa. “Sejak zaman Prabu Siliwangi hingga sekarang, termasuk di era Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Sukabumi tetap setia menjadi bagian dari Tanah Sunda,” pungkasnya. (ris/d)





