Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan pasarnya. Farid telah memiliki pemasok tutut yang sudah terjamin kualitasnya. Sedangkan bahan bakunya, didapat dari Sukabumi, Cianjur hingga wilayah Kuningan.
“Rata-rata tutut yang dijual ini, berhabitat di danau karena di sawah sudah mulai tercampur pestisida sehingga bahan baku mulai susah didapat,” ungkapnya.
Dirinya juga memprediksi terkait keracunan tutut yang memakan korban di Kadudampit, berbagai faktor bisa terjadi. Mulai dari cara pengolahannya, kebersihannya, hingga kualitas bahan baku.
“Secara pasti kami belum bisa menyebut apa yang menjadi penyebab kematian itu, karena kalau tutut ini layak di konsumsi, namun jika cara pengolahannya salah bisa saja membahayakan,” tutupnya.
Sementara itu, Ridwan Budiar (44), warga Citamiang, Kecamatan Citamiang mengaku tidak khawatir dengan informasi tutut yang diduga membuat keracunan warga Kadudampit itu. Pasalnya, di outlet langganannya ini dirinya bisa memastikan keamanannya.
“Saya sama sekali tidak terpengaruh oleh berita itu, karena di outlet ini kita bisa lihat dari mulai pengolahan hingga penyajiannya. Tapi, jika beli diluar saya pun pikir-pikir dulu,” pungkasnya. (Cr15/t).



