Ia memprediksi, penyebabnya mahalnya harga beras lantaran musim hujan yang melanda sejumlah wilayah penghasil beras akhir-akhir ini yang menyebabkan banyak petani gagal panen.
“Informasi terakhir dari Dinas Pertanian Kota dan Kabupaten Sukabumi yang sempat berkordinasi dengan kami, bahwa harga akan stabil kembali setelah panen raya di Kota dan Kabupaten Sukabumi pada Februari mendatang,”bebernya.
Dalam problem kenaikan harga beras tersebut, Diskoperindag terus melakukan monitoring setiap hari untuk memantau siklus harga beras.
“Kita terus melakukan monitoring setiap hari ke pasar-pasar Kota Sukabumi,”tuturnya.
Selain itu dirinya yakin harga beras kembali stabil.
“Semoga saja secepatnya harga beras turun kembali atau stabil kembali,” ulasnya.
Sementara itu, Diah Sadiah (45) mengaku kesal atas naiknya harga sembako terutama beras di Kota Sukabumi.
“Harganya bukan naik lagi tapi pindah, kalau naik kan harusnya Rp500, ini malah loncat yang asalnya Rp10 ribu per kilogram sekarang jadi Rp11.500 per kilogram,”kesalnya.
Diah yang juga warga Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi itu menjerit, karena risiko dapur yang diberikan suaminya sudah tidak bisa menutupi kebutuhan rumah tangga.
“Dulu uang itu ada harganya, sekarang kayak air, harga-harga mahal pusing saya harus membaginya,”ujarnya polos.
Diah menuturkan, jumlah pembelian sembako dirinya kurangi. Demi bisa membeli beras. “Paling saya kalau belanja lauk atau bumbu dapur dikurangi yang asalnya bisa sekilo beli, sekarang setengah dan bahkan seperempat kilo, bukan apa-apa supaya bisa beli beras,”paparnya.
Dirinya meminta Diskoperindag Kota Sukabumi untuk bisa menekan harga beras di pasaran. “Pusing kalau seperti ini terus, belum biaya anak sekolah harus juga kita fikirkan,”tandasnya.(Cr17/t)



