KOTA SUKABUMI

Jelang Tahun Baru, Harga Sayuran Meroket

Pasokan Kurang Hingga Hujan Jadi Keluhan

RADARSUKABUMI, SUKABUMI— Beberapa komoditi sayuran mengelami lonjakan harga menjelang tahun baru. Meningkatnya kebutuhan masyarakat disinyalir menjadi pemicu kenaikan harga. Tidak hanya itu, musim penghujan pun turut menyebabkan kenaikan harga tersebut.

“Kalau tahun baru, beberapa sayuran seperti jagung biasanya dicari-cari. Selain itu pasokan dari bandar yang berkurang sehingga harga naik,” Ungkap salah seorang pedagang sayuran di Pasar Gudang, Henda kepada Radar Sukabumi, kemarin (27/12).

Henda mengungkapkan, dari sekian komoditi yang mengalami kenaikan, harga jagung mengalami lonjakan yang signifikan atau naik sebesar 66 perseb. Dimana jika hari biasa hanya Rp 6 ribu per kilogram, saat ini mencapai Rp 10 ribu per kilogramnya. “Jelang akhir tahun, jagung memang menjadi primadona, bahkan bisa menembus hingga Rp 12 ribu per kilogramnya,” terang Henda.

Ditambahkannya, selain jagong kenaikan harga pun dialami sejumlah komoditi lainnya, seperti bawang merah mengalami kenaikan sebesar 38 persen, dari harga semula Rp.17 ribu naik menjadi Rp 23 per kilogram. Selain itu, harga cabai domba merangkak hingga menyentuh angka Rp.50 ribu per kilogram dari harga awal Rp 28 per kilogram. Wortel juga tak ketinggalan alami peningkatan harga, kini satu kilogram wortel dibanderol Rp.25 ribu.

Kenaikan harga membuat para pembeli mengeluh. Tentunya hal itu pun berdampak pada daya beli konsumen yang menurun. “Biasanya bisa belanja lebih banyak, cuman karena harga naik jadi belinya lebih sedikit,” tambah dia.

Persoalan lain lanjut Henda, terjadi akibat intensitas hujan yang cukup tinggi di setiap wilayah, sehingga mempengaruhi terhadap kenaikan harga ini. Jumlah sayuran yang dipasok oleh para pedagang jadi menurun karena musim hujan.

Selain itu, terjadi pula penurun kualitas sayur yang dikeluhkan oleh para pedagang. Sayuran yang didapatkan dari pemasok kondisinya tidak terlalu segar sehingga lebih cepat layu. Akibatnya, Henda kerap rugi karena sayuran tidak laku. “Saya biasa memasok sayuran dari petani di Cianjur dan Goalpara. Tapi akhir-akhir ini kualitasnya menurun,” keluh Henda.

Akibatnya sambung dia, penurunan Omzet tidak dapat dihindari. Henda mengungkapkan omzetnya turun dua kali lipat akibat satu bulan terakhir. Ia biasanya bisa meraup Rp.3 Juta tiap bulannya, kini hanya bisa mengantongi laba sebesar Rp.1,5 Juta perbulannya.

Kondisi serupa dialami oleh Budi (47), pedagang sayuran di Pasar kawasan Pendopo. Budi mengeluhkan di musim hujan ini, kegiatan di pasar jadi sedikit lebih sepi karena sering dilanda hujan.

Sementara itu, lonjakan harga sayuran tersebut memaksa warga mengurangi pembeliannya, bahkan mensiasati pembeliannya dengan menggantinya sayuran lain.

“Kalau cabe lagi naik mah, saya mengurangi pembeliannya. Lagi pula kan kalau makan yang pedas terus ga baik juga untuk kesehatan. Tapi kalau sayuran lain, saya biasanya ganti sama yang gizinya kurang lebih sama. Misalnya kan wortel lagi naek, saya ganti sama bayam,” kata salah seorang warga Yani di Pasar Gudang.

Menurut Yani, di musim hujan ini banyak sayuran yang tidak terlalu segar. Ia berharap kondisi seperti ini bisa cepat diatasi oleh pemerintah terkait. Hal serupa juga diunkapkan oleh Henda agar pendapatan dirinya dan pedagang lain tidak terus menurun di pengujung tahun 2018 ini. (pkl)

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button