SUKABUMI – Di balik aroma masakan bergizi yang tersaji di dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Sukabumi, ada persoalan yang kini menjadi sorotan: sistem pengolahan limbah. Sebanyak 46 dapur SPPG masih mengandalkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) manual atau alami.
Kepala Satgas MBG Kota Sukabumi, Andri Setiawan, mengungkapkan temuan ini setelah inspeksi lapangan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH). “Sebagian besar IPAL dibangun secara mandiri dengan sistem alami. Secara aturan tidak serta-merta melanggar, namun aspek keamanan dan kelayakan teknis tetap harus diuji,” jelasnya.
DLH dijadwalkan melakukan uji laboratorium untuk memastikan kualitas air limbah memenuhi baku mutu lingkungan. Langkah ini penting untuk mencegah pencemaran yang bisa berdampak pada kesehatan masyarakat. Hingga kini, baru enam SPPG yang beralih ke IPAL tank, sesuai rekomendasi teknis agar sistem lebih stabil, terukur, dan ramah lingkungan.
Satgas MBG bersama DLH mendorong percepatan peralihan di seluruh SPPG. Menurut Andri, penguatan sistem pengolahan limbah adalah bagian krusial dalam menjaga kredibilitas program Makan Bergizi Gratis (MBG).




