RS Betha Medika

Pruritus / Gatal Pada Lansia

Oleh: dr. kartika Noviani Widyaningsih, SpKK
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin RS Betha Medika

Apakah anda atau keluarga anda yang lanjut usia (lansia) sering mengalami gatal pada kulit? Apabila iya, maka artikel ini akan dapat membantu anda mengenali penyakit ini lebih jauh lagi.

Pruritus (gatal) adalah sensasi yang menyebabkan keinginan untuk menggaruk. Gatal merupakan keluhan kulit paling sering pada lansia. Kisaran 50 persen lansia lebih dari 60 tahun mengalami gatal yang berlangsung kronik dan sulit sembuh serta dapat berpengaruh terhadap kualitas hidup.

Penyebab gatal pada lansia bervariasi, dapat disebabkan penyakit peradangan kulit yang mendasari atau dengan keluhan kulit primer seperti skabies (budukan), eksim dan tanpa penyakit kulit yang mendasari atau tanpa kelainan kulit primer. Pruritus pada lansia tanpa penyakit radang kulit yang mendasari dapat disebabkan:

  1. Xerosis yang merupakan penyebab tersering,
  2. Kelainan sistemik termasuk kelainan ginjal, hati atau keganasan,
  3. Alergi obat,
  4. Psikogenik akibat depresi, dan
  5. Idiopatik yang disebut dengan pruritus senilis.

Xerosis
Xerosis merupakan keadaan kulit kering dan kasar yang ditemukan hampir pada semua lansia diduga berhubungan dengan gangguan struktur kulit, perubahan profil lemak, kekurangan kandungan air dan penurunan produksi keringat pada lansia. Keluhan awal xerosis berupa kulit kusam, warna putih keabuan, dan peningkatan topografi kulit. Xerosis lebih berat terjadi pada daerah dengan jumlah kelenjar minyak sedikit seperti lengan, tungkai dan badan.

Pruritus karena kelainan ginjal
Gatal merupakan salah satu keluhan yang sering didapatkan pada pasien dengan kelainan ginjal. Gatal akibat kelainan ginjal timbul pada pasien dengan peningkatan urea serum dalam darah akibat kelainan ginjal, gagal ginjal kronik (GGK) tanpa penyakit kulit sebelumnya, kelainan sistemik lain atau gangguan psikologis yang dapat menyebabkan pruritus.

Pruritus karena kelainan hati
Gatal dikeluhkan 20-25 persen pasien batu empedu dan 100% pada pasien gagal hati. Hepatitis C merupakan penyebab penting gatal pada penderita batu empedu. Gatal akibat kelainan hati dan empedu biasanya generalisata, berat, dan tidak respon terhadap pemberian obat anti gatal.

Pruritus karena kelainan endokrin
Gatal tanpa kelainan kulit pada penderita diabetes melitus dapat terjadi akibat neuropati diabetik.

Pada wanita lansia, pruritus tanpa penyakit radang kulit dapat terjadi karena defisiensi hormon estrogen akibat menopause yang dihubungkan dengan diabetes melitus. Pruritus ini disebut dengan pruritus postmenopause.

Pruritus terkait Keganasan
Kisaran 5-27 persen pasien tumor mengeluh gatal. Gatal dapat timbul beberapa tahun sebelum tumor terdeteksi tanpa lesi kulit ataupun dengan lesi kulit. Pasien lansia dengan keluhan gatal tanpa lesi kulit harus selalu dicurigai memiliki kelainan sistemik yang mendasari, termasuk keganasan. Tumor yang dilaporkan berhubungan dengan gatal termasuk tumor paru, usus, payudara, lambung, dan prostat. Gatal yang berhubungan dengan keganasan umumnya generalisata walaupun pada beberapa kasus gatal dapat terlokalisasi di daerah sekitar tumor.

Reaksi alergi obat
Lesi kulit yang sering ditemui pada alergi obat berupa bentol (urtika) atau bercak dan bintil merah, gatal bersifat mendadak dan
terdapat riwayat konsumsi obat sebelumnya. Reaksi alergi obat relatif lebih sering terjadi pada lansia karena interaksi dengan obat lain yang juga dikonsumsi serta terdapat gangguan metabolisme akibat penuaan sistem organ.

Psikogenik
Kisaran 42 persen pasien psikiatrik termasuk depresi dan psikosomatis mengeluh gatal dan berhubungan dengan stress psikososial. Pruritus psikogenik dapat terlokalisasi atau generalisata. Pruritus vulva sering merupakan manifestasi puritus psikogenik terlokalisasi pada wanita. Serangan pruritus nocturnal atau gatal pada malam hari sering terjadi pada pasien ansietas (gangguan cemas).

Pruritus Senilis
Pruritus senilis merupakan gatal tanpa lesi kulit primer yang timbul pada lansia dan tidak diketahui penyebabnya, termasuk tidak ditemukan xerosis, kelainan sistemik, reaksi obat maupun kelainan psikogenik.

Pemeriksaan kulit pada pruritus tanpa kelainan radang kulit yang mendasari dapat tidak ditemukan kelainan apapun atau hanya ditemukan lesi sekunder akibat garukan seperti lecet atau penebalan.

Tatalaksana pasien lansia dengan pruritus tanpa penyakit radang kulit yang mendasari adalah menghilangkan faktor penyebab dan mengobati penyakit sistemik yang mendasari sehingga kadang dibutuhkan interaksi multidisiplin. Pemilihan obat anti gatal oles dan minum disesuaikan dengan kelainan yang mendasari pruritus. Penggunaan obat oles seperti steroid, anti gatal dan anestetik oles yang tidak tepat harus dihindari.

Selain pengobatan berupa pelembap untuk xerosis pada lansia, beberapa hal terkait perawatan kulit termasuk mengurangi frekuensi mandi, pengaturan kelembapan di dalam ruangan, pencegahan berkeringat berlebihan, menghindari mandi menggunakan air panas, sabun, dan bahan pakaian yang bersifat iritan juga harus disarankan pada pasien xerosis.

Beberapa penelitian menunjukkan terapi perubahan perilaku menggaruk dan menurunkan stress melalui meditasi dan yoga dapat mengurangi intensitas pruritus. Akupunktur, hipnoterapi, aromaterapi, dan latihan pernafasan dalam dilaporkan dapat mengurangi gatal kronik

Semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian, salam sehat dari kami keluarga besar Rumah Sakit Betha Medika. (*)

Tags
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button