Protein Hewani Cegah Stunting

Iceu Sulastri
Iceu Sulastri, SGz Kepala Instalasi Gizi RSI Assyifa

Oleh : Iceu Sulastri, SGz
Kepala Instalasi Gizi RSI Assyifa

Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal itu diakibatkan kekurangan gizi kronik, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan menurut usia yang berada dibawah kurang dari 2 tahun, atau standar deviasi pada kurva pertumbuhan WHO yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No.2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak.

Bacaan Lainnya

Dari data Kementerian kesehatan RI, angka stunting di Indonesia masih tinggi, yaitu 24,4 persen (SSGI 2021). Stunting ini terjadi sejak sebelum lahir, dilihat dari tren SSGI 2018-2021. Konsisten terlihat bahwa angka stunting tinggi saat lahir dan naik tinggi pada rentang usia 6-24 bulan.

Data menunjukkan angka stunting pada bayi usia 6-11 bulan 13,8 persen dan usia 12-23 bulan 27,2 persen (SSGI 2021). Dari data tersebut, kita dapat melihat pentingnya terpenuhinya gizi ibu sejak hamil, menyusui dan kecukupan protein hewani pada MP-ASI balita.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Headey et.al (2018), menyatakan, bahwa ada bukti kuat hubungan antara stunting dan indikator konsumsi pangan berasal dari hewan, seperti daging, ikan, telur dan susu atau produk turunannya (keju, yoghurt, dll).

Penelitian juga menunjukan konsumsi pangan berasal dari protein hewani, lebih dari satu jenis lebih menguntungkan dari pada konsumsi pangan berasal dari hewani tunggal.

Tingkat kecukupan konsumsi energi dan protein, dapat digunakan sebagai indikator untuk melihat kondisi gizi masyarakat. Berdasarkan Susenas 2022, konsumsi protein per kapita sudah berada diatas standar kecukupan konsumsi protein nasional yaitu 62,21 gram. Namun, masih cukup rendah untuk protein hewani yaitu kelompok ikan/udang/cumi/kerang 9,58 gram, daging 4,79 gram, telur dan susu 3,37 gram.

Konsumsi daging di Indonesia masih tergolong sedikit, bahkan bila dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Selain harganya mahal, sedikitnya konsumsi daging penduduk Indonesia juga disebabkan karena daya beli penduduk yang masih rendah.

Perbaikan gizi masyarakat pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), dengan mengkonsumsi beragam makanan bergizi dan mengandung protein hewani akan berdampak pada penurunan stunting.

Selain melakukan Antenatal Care (ANC) atau pemeriksaan kehamilan, ibu hamil perlu memperhatikan beberapa hal untuk menjaga kesehatannya dan janin , sehingga terhindar dari anemia dan kurang energi kronik (KEK). Sebab, hal itu dapat berakibat lahirnya BBLR atau prematur serta terhindar dari berbagai penyakit lainnya.

Ibu hamil dapat membaca buku KIA untuk mengetahui bagaimana cara menjaga kesehatan selama hamil. Contohnya, adalah ibu hamil dapat menambahkan porsi makanan utama atau makanan selingan, dari sebelum kehamilan. Ibu hamil juga, harus makan beragam jenis bahan makanan, utamanya yang kaya protein hewani.

Selama menyusui ibu tetap harus mengonsumsi beraneka ragam makanan bergizi utamanya protein hewani dan menambah porsi makannya dibanding saat hamil untuk menjaga kualitas ASI agar bayi yang disusuinya terhindar dari permasalahan gizi.

Bayi harus mendapatkan ASI eksklusif pada 6 bulan pertama, melalui terlaksananya inisiasi menyusu dini (IMD) dan pemberian ASI saja. Ini diberikan kapan pun bayi membutuhkan (on demand). Setelah bayi berusia 6 bulan, ASI dilanjutkan disertai dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI), untuk memenuhi syarat tepat waktu, adekuat dan kaya protein hewani, aman dan diberikan dengan cara yang benar. Pastikan setiap kali makan MP ASI mengandung protein hewani.

Adapun anjuran yang harus diperhatikan dalam memberikan MPASI ,diantaranya, dari tekstur makana. Dimana pada usia 6 bulan, bayi dapat makan bubur (makanan lumat). Usia 9 bulan , bayi dapat makan tim (makanan lembik). Usia 12 bulan, bayi sudah mulai belajar mengunyah, kebanyakan anak dapat makan makanan keluarga. Hati-hati dengan makanan yang dapat menyebabkan tersedak.

Penambahan jumlah pemberian MP-ASI dapat dilakukan, seiring dengan bertambahnya usia anak, seperti pada usia 6 – 8 bulan membutuhkan 2 -3 kali pemberian makan tiap hari. Pada usia kurang dari 9 – 23 bulan membutuhkan pemberian makan 3 – 4 kali per hari. Juga diberikan 1 – 2 kali snack bergizi per hari.

Supaya kebutuhan energi dan kandungan semua zat gizi yang dibutuhkan tersedia, sumber bahan makanan yang harus ada, diantaranya, bahan makanan pokok sebagai sumber utama energi dan karbohidrat (Bubur – Tim – Nasi).

Bahan makanan hewani Seperti: ikan, ayam, telur, hati, dan produk susu. Kacang-kacangan Seperti: kacang polong, , kacang tanah, kacang merah dan kacang kedelai. Sayuran dan buah Seperti: sayur berdaun hijau tua, wortel, labu, tomat, pepaya, pisang. Tambahkan sejumlah minyak untuk memberi ekstra energy. (*)

Pos terkait