Pencegahan Kasus DBD di Tengah Pandemi

dr. Nadyah Mar’atus Sholichah Wahab
dr. Nadyah Mar’atus Sholichah Wahab Dokter Internship RS Islam Assyifa Sukabumi

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sahabat sehat Assyifa, di tengah pandemi covid yang belum menghilang dari muka bumi ini, beberapa bulan kebelakang kita juga sedang berjuang bersama menangani kasus demam berdarah.

Bacaan Lainnya

Indonesia termasuk negara negara kedua terbanyak kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) setelah brazil dan negara endemis DBD yang berarti kita tidak dapat menghindari munculnya kasus tersebut dari tahun ke tahun.

Kasus DBD pun merupakan kasus yang perlu di waspadai dikarenakan dapat menyebabkan komplikasi jika tidak tertangani dengan baik, yang disebut dengan Dengue Shock Syndrome (DSS), dimana DSS tersebut dapat berujung pada kematian.

Kasus DBD di Indonesia pada tahun 2021 tercatat sebanyak 37.646 kasus dari bulan januari sampai oktober 2021 yang menurun dari tahun sebelumnya tahun 2020 yaitu sebanyak 108.303 kasus.

Sedangkan di Sukabumi kasus DBD tercatat sebanyak 217 kasus DBD dan 2 kasus meninggal dari bulan Januari hingga September 2021, yang mana kasus DBD di Sukabumi mengalami penurunan dari tahun 2020 yaitu sebanyak 553 kasus dan 3 kasus meninggal.

Meskipun kasus DBD tahun 2021 mengalami penurunan dari tahun 2020, kita harus selalu waspada dengan melakukan pencegahan 3M dan melakukan Perilaku Hdiup Bersih dan Sehat (PHBS).

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti, DBD dapat menimbulkan gejala seperti demam, nyeri kepala, nyeri di bagian belakang mata, nyeri pada otot dan sendi, bitnik-bintik merah pada kulit, lemas, tidak nafsu makan, tanda-tanda perdarahan seperti mimisan atau gusi berdarah.

Penderita DBD umunya akan pulih dalam waktu 1 minggu namun dalam beberapa kasus dapat juga mengalami perburukan dan mengalami syok yang disebut sebagai Dengue Shock Syndrome (DSS).

Dengue Shock Syndrome (DSS) merupakan komplikasi dari kasus DBD yang tidak terdeteksi atau tertangani dengan baik dan tepat, gejala yang ditimbulkan dapat berupa penurunan tekanan darah, tubuh terasa dingin dan berkeringat, sesak napas, denyut nadi lemah, jumlah urin menurun, hipoksia, hingga kerusakan organ lain seperti hati, jantung, otak dan paru-paru.

Kasus DSS ini paling dikhawatirkan dan diwaspadai oleh nakes karena dapat berujung pada kematian terutama pada anak-anak.

Maka dari itu kami ingin melakukan edukasi dan memberikan sedikit ilmu terkait dengan penyakit DBD melalui tulisan ini, agar semua lapisan masyarakat dapat berperan dalam mencegah dan mendeteksi kasus DBD, agar kasus ini mengalami penurunan dan mengurangi kasus kematian yang disebabkan oleh kasus DBD.

Sebelum kita mengetahui pencegahan dari kasus DBD, kita harus mengetahui terlebih dahulu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya DBD antara lain, kepadatan penduduk, curah hujan yang tinggi, genangan air bersih, jarang menguras air bak, kekebalan tubuh yang rendah, membuang sampah sembarang dan menimbun/menggantung pakaian kotor.

Pencegahan demam berdarah dari kemenkes dilakukan dengan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus, yaitu

Pertama, Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti: bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain

Kedua, Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti: drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya; dan

Ketiga, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular Demam Berdarah.

Sedangkan pencegahan dengan cara Plus dilakukan dengan cara antara lain, pertama, menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, kedua, menggunakan kelambu saat tidur, ketiga, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, keempat, menanam tanaman pengusir nyamuk, kelima, menghhindari kebiasaan menggantung pakaian dalam rumah, keenam, menggunakan anti nyamuk semprot atau oles bila diperlukan.

Beberapa upaya pertolongan awal yang dapat dilakukan jika mendeteksi/mengalami DBD antara lain, tirab baring (bedrest), perbanyak asupan cairan/banyak minum minimal 2L/hari, kompres hangat, minum obat Pereda panas seperti parasetamol, jika dalam 2-3 hari tidak membaik dan ditemukan gejala-gejala yang perlu diwaspadai atau tanda bahanya penderita DBD seperti tidak ada perbaikan suhu tubuh, sakit perut yang hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas, lesu dan gelisah, perubahan perilaku, sesak napas, wajah pucat, kaki dan tangan dingin, penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas Kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Di tengah perjuangan kita melawan pandemi covid ini terkadang kita melupakan kasus yang sudah lama ada di Indonesia, semoga dengan tulisan ini kita dapat memperhatikan dan mewaspadai kasus DBD termasuk DSS, dan semoga tulisan ini menambah ilmu kita semua sehingga kita dapat menerapkannya di masa yang mendatang aamiin ya rabbal ‘alamin.

Salam sehat untuk warga sukabumi, saya memohon maaf bila ada kesalahan kata atau tulisan, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *