SUKABUMI – Ratusan warga di Kampung Gunungbatu, RT 02/RW 04, Desa Kebonpedes, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, sudah puluhan tahun mengalami krisis air bersih.
Bagaiamana tidak, pemukiman penduduk yang tinggal di sekitaran pinggiran lahan Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) itu, terpaksa harus membeli air galon, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Lantaran, sumur yang mereka gunkanan selain mengering, juga kualitas airnya menguning karena mengandung zat besi.
Salah seorang warga Kampung Gunungbatu, RT 02/RW 04, Desa Kebonpedes, Kecamatan Kebonpedes, Nurah (53) kepada Radar Sukabumi mengatakan, sudah puluhan tahun semenjak ia tinggal bersama keluarganya di wilayah kampung itu, kondisi airnya, menguning.
“Iya, sudah puluhan tahun kondisi air di sini kuning. Makanya, untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak, kami terpaksa membeli air galon isi ulang,” kata Nurah kepada Radar Sukabumi pada Senin (04/09).
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, ia terpaksa harus membeli air galon untuk kebutuhan memasak dan minum. Sementara, untuk mencuci, ia harus mengambil air dari kolam MCK mushola yang ada di wilayah kampung tersebut.
“Kalau musim hujan sumur warga itu, kuningnya, tidak pekat. Namun, semenjak memasuki musim kemarau panjang tahun ini, air sumur itu warnanya selain kuning, juga agak ke hitam-hitaman,” bebernya.
Keluhan serupa dikatakan, Ade Deni (63) warga Kampung Gunungbatu, RT 02/RW 04, Desa Kebonpedes, Kecamatan Kebonpedes mengatakan, kondisi air di kampungnya dinilai tidak layak dikonsumsi ini, bukan dampak dari kemarau panjang, melainkan kondisi mata air yang ada di kampungnya itu telah mengandung zat besi. Sehingga, kualitas airnya berubah warnanya, menjadi menguning. “Semua warga di kampung ini, memang kondisi airnya kuning yah. Karena, mengandung zat besi,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia yang hidup berdua bersama istrinya, harus memenuhi kebutuhan air bersihnya, dengan membeli air galon. Dalam satu minggunya, keluarganya telah menghabiskan sebanyak 6 hingga 7 galon air. Sementara, untuk satu air galonnya ia beli di warung kampung setempat sebesar Rp5.500.
“Jadi 6 sampai 7 galon air itu, khusus kami gunakan hanya untuk memasak dan minum saja. Sedangkan, untuk mandi dan cuci pakaian atau cuci piring, kami ngambil airnya dari kolam MCK mushola. Iya, meskipun airnya kolam tidak bersih, tapi mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain,” bebernya.
Masih ditempat yang sama, Kepala Desa Kebonpedes, Dadan Apriandani mengatakan, darurat krisis air bersih di wilayah kampung tersebut, telah dialami sebanyak 75 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah jiwa sekitar 150 orang.
“Memang, semua warga di kampung ini, airnya sudah tidak layak dikonsumsi. Apalagi, sekarang musim kemarau kondisi airnya semakin menguning dan agak kehitam-hitaman, makanya warga tidak ada yang berani menggunakan airnya,” jelasnya.






