Kondisi darurat air bersih ini, mulai dirasa memprihatkan oleh warga di kampung itu, semenjak memasuki musim kemarau. Karena, menurutnya semenjak kemarau seluruh warga di kampung itu telah mengambil air dari kolam MCK mushola.
“Air kolam itu, bersumber dari saluran air Sungai Cimuncang. Jadi, kondisinya agak lumayan tidak terlaku kuning, jika dibandingkan air sumur. Tapi, yah begitu sebenarnya itu tidak layak. Karena, dikhawatirkan dapat berdampak buruk terhadap kesehatan warga,” tandasnya.
Sebelum menjadi area perkampungan, kata Dadan, di wilayah kampung tersebut, dahulunya merupakan lahan rawa. Untuk itu, tidak heran jika semua sumur warga yang ada di kampung itu, mengandung zat besi. “Iya, dampaknya pada kualitas air menjadi kuning,” imbuhnya.
Ia juga mengaku, musim kemarau tahun ini sudah berlangsung sekitar 3 bulan terakhir dan berdampak pada sumur yang ada di rumahnya, telah menyusut. “Iya, sumur saya saja, kedalamannya ada sekitar 20 meteran. Itu, sekarang sudah kering. Nah, kalau saya ngambil air di kolam itu dengan cara menyedot menggunakan mesin pompa air,” bebernya.
“Sementara, untuk warga biasanya mereka mengambil air setiap pagi dan sore hari menggunakan ember atau jerigen di kolam mushola,” tukasnya.
Untuk itu, ia bersama warga lainnya berharap adanya bantuan untuk warganya tersebut, untuk pembangunan sumur bor dengan kedalaman minimal 30 meter.
“Ya, kalau kurang dari 30 meter kedalamannya, airnya pasti tidak jernih atau menguning. Terus kalau musim kemarau pasti airnya akan kering. Yah, buktinya sumur saya saja di kampung ini, kedalaman 20 meter sekarang sudah tidak ada airnya,” pungkasnya. (Den)






