Akibat musim kemarau saat ini, ujar Dede, telah mengakibatkan ratusan hektare lahan pertanian padi yang ada di tiga desa tersebut tidak bisa bercocok tanam. Lantaran, debit air sungai untuk mengairi lahan pesawahan warga, kondisinya mengering.
“Ada sekitar 120 hektare lahan sawah produktif di tiga desa ini, tidak bisa ditanami padi. Ya, jangankan untuk mengairi sawah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, warga disini sudah kelabakan,” paparnya.
Sementara, Camat Kalibunder, Moh Deny Ramedhan membenarkan, soal tiga desa di Kecamatan Kalibunder yang mengalami kesulitan air bersih. Hal ini, terjadi lantaran sumber mata air berupa sumur yang ada di setiap rumah warga, kondisinya sudah mengering.
“Memang di wilayah ini, jika musim kemarau debit air sumur warga selalu mengering. Seperti yang dialami sekarang, dengan keterbatasan air bersih terpaksa warga menggunakan air sungai yang ada. Walaupun kondisinya, sudah dangkal,” katanya.
Untuk mengantisipasi terjadinya kemarau ditahun depan, pihaknya berencana akan memperdalam sungai yang biasa digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Dengan begitu, air bisa bertahan lama. Kalau sekarang, sungai yang lokasinya berdekatan dengan pemukiman warga kondisinya memang dangkal, karena tidak dikeruk,” imbuhnya.





