SUKABUMI — Motif Pelaku pembacokan hingga tewas di Cicurug, yang dilakukan pada tentangganya sendiri, akhirnya terungkap. Orang yang sebelumnya disebut-sebut mengalami gangguan jiwa atau ODGJ ini mengaku merasa sakit hati karena pohon bambu miliknya dipotong potong korban dan dijadikan pagar.
Diketahui, pembacokan tersebut terjadi Minggu, (9/10) sekitar pukul 09.00 WIB di kebun tepatnya di Kampung Sindang Resmi, RT (05/06) Desa Kutajaya, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.
Kapolres Sukabumi AKBP Dedy Darmawansyah, antara pelaku yang diketahui berinisal P (45) dengan korban berinisial J (50) merupakan tetangga
“Penangkapan tersangka secara cepat karena kami sudah mendapat informasi akan ada perlawanan dari masyarakat, kami lakukan tindakan cepat mengamankan tesangka,” ungkapnya kapolres.
Menurutnya, kejadian berawal saat korban J sedang melakukan pekerjaan
pembangunan pondasi untuk pagar beton bersama sama dengan saksi- saksi, tiba-tiba tersangka P datang sambil mempertanyakan pohon bambu ditebang sambil langsung melakukan penganiayaan terhadap korban dengan memukul korban dengan tangan kosong sehingga korban terdorong.
Kemudian korban berdiri dan secara tiba-tiba tersangka P langsung membacok korban dengan menggunakan sebilah golok yang sebelumnya telah dibawa oleh tersangka dan mengenai kepala korban secara berkali kali sehingga korban mengalami luka sobek di beberapa bagian
pada kepala dan mengalami pendarahan.
“Tersangka merasa tersinggung dan marah, tidak ada diskusi dan ngomong panjang, si pelaku langsung melakukan penganiayaan ke arah wajah sehingga ada sekitar 9 luka sayatan bagian wajah,” jelasnya.
Selanjutnya, kata Dedy korban langsung dibawa ke rumah sakit bhakti medicare untuk dilakukan tindakan medis dan melakukan visum et refertum, namun atas kejadian tersebut korban meninggal dunia.
“Korban dilakukan otopsi di rumah sakit polri Kramat Jati,” terangnya.
Masih kata Dedy, pasal yang dikenakan 338, subsider 351 ancaman hukuman 15 tahun penjara, dan barang bukti yang diamankan satu buah golok, pakaian yang digunakan korban.
“Saat penangkapan pelaku kebetulan keluarga sendiri berkordinasi dengan polisi sehubungan takut menjadi korban amukan masaa sekitar yang merasa tidak enak ada warganya yang meninggal,” bebernya. (Cr2/d).






