Peternakan Cikembar Cemari Lingkungan

  • Whatsapp

CIKEMBAR – Ratusan warga di Kedusunan Mekarsari dan Kedusanan Cijolang, Desa Parakanlima, Kecamatan Cikembar, memportes pengolahan limbah peternakan milik CV. Lestari Unggas Jaya, Kamis (12/4). Warga menilai, limbah ternak ayam broiler ini diduga kuat telah mencemari lingkungan mereka.

Informasi yang dihimpun Radar Sukabumi, pencemaran lingkungan ini dirasakan warga dimulai dari bau yang menyengat sampai pada serangan lalat pasca panen. Warga merasa tidak nyaman dengan kondisi yang ditimbulkan oleh perusahaan ternak penghasil telur ini.

Bacaan Lainnya

Kepala Dusun (Kadus) Mekarsari, Dian Daris mengatakan, di Kedusunan Mekarsari ada sekitar 150 warga di-3 RT memprotes keberadaan perusahaan yang diduga kuat melakukan pencemaran lingkungan.

“Empat bulan lalu, limbah perusahaan ini sempat mencemari air bersih yang digunakan warga untuk wudhu di masjid. Selain itu juga, banyak tanaman warga didekat ternak yang mati akibat limbah tersebut,” jelas Dian kepada Radar Sukabumi di rumahnya, Kamis (12/4).

Lebih lanjut Dian menjelaskan, warga Kedusunan Mekarsari sudah lebih dari lima tahun dicekoki bau yang menyengat dari kotoran kandang ayam. Mereka khawatir, lalat yang menyerang pumikaman penduduk itu menjadi sumber penyakit dikemudian hari. Untuk itu, warga merasa keberatan dengan adanya perusahaan ternak ayam tersebut.

“Lokasi perusahaan dengan pemukiman penduduk ini ada yang berjarak sekitar 10 meter. Warga cemas dampak dari perusahaan ini, selain dapat mencemari lingkungan juga menganggu kesehatan warga,” paparnya.

Hal senada juga dikatakan Kepala Dusun Cijolang, Sukman. Menurutnya, beberapa hari yang lalu pihaknya mewakili ratusan warga Kedusunan Cijolang sudah mendatangi perusahaan, untuk menyampaikan protes warganya.

“Namun sayang, jawaban dari pihak perushaan tidak memuaskan. Mereka berdalih, bau yang menyengat dari limbah perusahaan juga berdampak terhadap populasi ayam sehingga mengakibatkan ayam ternaknya banyak yang tewas,” katanya.

Karena hal itu, pihaknya mengaku kecewa dengan sikap perusahaan yang dinilai tidak memperdulikan lingkungan. Padahal pada tahun sebelumnya, pihak perusahaan bersama warga sudah sepakat dalam kegiatannya tidak akan mencemari ataupun menggangu lingkungan.

“Ada enam poin yang disampaikan warga. Diantaranya harus menjaga kebersihan lingkungan dan tidak mengeluarkan bau menyengat, menyerap tenaga kerja dari warga terdampak serta memberikan dana kompensasi. Namun faktanya, pihak perusahaan tak kunjung merealisasikan kesepakatan itu,” jelasnya.

Di wilayah Kedusunan Cijolang, ujar Sukman, terdapat 3 RT yang lokasi rumahnya masuk pada kategori warga terdampak. Namun dari tiga RT tersebut, yang lokasinya paling dekat dengan perusahaan adalah Kampung Cijolang, RT 1/5 dengan jumlah penduduk sekitar 75 kepala keluarga.

“Warga Kedusunan Cijolang merasa geram dengan sikap perusahaan karena tidak bisa menjaga lingkungan. Warga mau tidak marah bagaimana, limbah perusahaan ini telah mencemari lingkungan. Lihat saja kotoran dan belatung dari limbah itu yang mengeluarkan bau menyengat. Apalagi kalau musim hujan seperti saat ini, warga khawatir limbah itu masuk ke pemukiman penduduk karena terbawa air hujan,” paparnya.

Sementara itu, ketika wartawan koran ini hendak melakukan konfirmasi terkait protes warga terhadap perusahaan CV. Lestari Unggas Jaya yang diduga mencemari lingkungan akibat pengolahan limbahnya, pihak perusahaan pelit memberikan komentar apapun.

“Maaf pak, saya tidak bisa memberikan keterangan apapun kepada media. Sebab, perusahaan kami sudah beroperasi sesuai dengan prosedur yang berlaku. Apabila, memang media membutuhkan statmen untuk pemberitaan, silahkan saja hubungi Pak Wiharna yang rumahnya di Desa/Kecamatan Cikembar,” singkat Wijaya, pemilik CV. Lestari Unggas Jaya, saat berada di mobil mewahnya.

 

(cr13/t)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *