SUKABUMI – Kekayaan alam Kabupaten Sukabumi yang melimpah dari sektor pertambangan hingga energi dinilai belum mampu dikonversi menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang signifikan. Alih-alih menjadi mesin penggerak ekonomi, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Agro Sukabumi Mandiri, Tambang, dan Energi (ATE) justru terus terjebak dalam tren kerugian.
Kritik tajam itu disampaikan Pimpinan Cabang Pemuda Muslimin Indonesia Kabupaten Sukabumi dalam audiensi bersama jajaran manajemen Perumda ATE di kantor perusahaan, Jalan Raya KH. Ahmad Sanusi No.31, Karang Tengah, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, belum lama ini.
Ketua Pemuda Muslimin Indonesia Kabupaten Sukabumi, Muhammad Nurdin Hadi Mujibul Fatah, menyoroti ketimpangan antara potensi sumber daya dengan realitas finansial perusahaan. “Hasil tambang dan energi kita melimpah, tapi tidak ada skala prioritas yang jelas. Dampaknya, perusahaan selalu merugi. Ini ironi yang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut,” ujarnya, Minggu (8/3).
Nurdin menilai eksploitasi sumber daya alam selama ini belum memberi efek domino bagi kas daerah maupun kesejahteraan masyarakat. Ia mempertanyakan strategi jangka panjang agar Perumda ATE tidak sekadar menjadi beban APBD.
Dalam audiensi, manajemen Perumda ATE berdalih kondisi sulit saat ini merupakan warisan masalah dari periode sebelumnya, termasuk kasus hukum yang menjerat pejabat lama. Namun, Pemuda Muslimin menilai hal itu menunjukkan adanya krisis kepercayaan yang sistemik.
“Jika manajemen saat ini merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi publik, maka reposisi pengelolaan harus segera dilakukan. Perumda ATE mengalami problematika di semua segmen, mulai dari hilangnya kepercayaan stakeholder hingga defisit permodalan,” tegas Nurdin.




