Pemda Kabupaten Sukabumi

Tekan Kekerasan, P2TP2A Gencarkan Capacity Building

×

Tekan Kekerasan, P2TP2A Gencarkan Capacity Building

Sebarkan artikel ini
Bupati Sukabumi, Marwan Hamami saat memberikan sambutan pada Capacity Building di Rumah Sehat Ibu dan anak (RUSAIDA) Kecamatan Cisaat.

KABUPATEN SUKABUMI – Guna menekan tingginya kasus kekerasan, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) menggencarkan capacity building. Baru ini, kegiatan diselenggarakan di Rumah Sehat Ibu dan anak (RUSAIDA) Kecamatan Cisaat.

Ketua P2TP2A Kabupaten Sukabumi, Yani Jatnika Marwan mengatakan, capacity building ini dilaksanakan untuk meningkatkan kapsitas tim dalam bekerjasama dalam menghadapi masalah kekerasan, kekerasan seksual, KDRT maupun kekerasan lainnya.

Bank bjb Tandamata

“Capacity buelding ini memang perlu dilakukan untuk memperkuat tim building, bagaimana tim ini bekerja sama dalam menanggulangi kasus yang memang masih tinggi di Kabupaten Sukabumi,” kata Yani kepada Radar Sukabumi.

Dari data yang tercatat, lanjut Yani, terhitung dari Januari sampai Oktober kasus yang mendominasi yakni kekerasan seksual yang jumlahnya mencapai 41 kasus dan 55 korban, 7 KDRT dan 7 korban, 7 trafficking dan 7 korban serta kasus lain-lainnya mencapai 18 kasus dengan 20 korban.

“Kalau melihat data yang ada kekerasan seksual lebih mendominasi kasus lainnya. Mirisnya, korban kebanyakan dari kalangan pelajar,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Aisyah menuturkan, P2TP2A merupakan mitra kerja dari DP3A untuk melaksanakan perlindungan perempuan dan anak di Kabupaten Sukabumi.

“Tentunya saat ini yang paling aktif menjadi mitra DP3A adalah P2TP2A tentu sangat membantu dalam penanganan kasus, kedepan perlu ada penguatan kemitraan antara DP3A dengan seluruh mitra kerja termasuk dengan P2TP2A,” tuturnya.

Di tempat sama, Bupati Sukabumi, Marwan Hamami menambahkan, beban dan tanggungjawab yang dihadapi bisa memberikan satu semangat dan nilai lebih.

“Harus di mulai dari niat kita, bagaimana untuk memberikan sumbangsih pemikiran, tentu masalah perlindungan perempuan dan anak bukanlah pekerjaan ringan serta perlu mendapat perhatian bersama,” cetusnya.

Berdasarkan pencermatan terhadap realita, sambung Marwan, faktor lingkungan sangat mempengaruhi kondisi kejiwaan ataupun persepsi dasar manusia. “Sehingga catatan catatan kejadian perwilayah sesuai dengan topograpi, demografi dan sosiologi lingkungan, karenaya harus terus dipelajari,” pungkasnya. (bam/d)