Pihaknya mengaku terpaksa mengairi lahan pertanian dengan menggunakan mesin diesel. Meskipun cara ini butuh biaya yang cukup besar.
“Mengairi lahan pesawahan menggunakan mesin diesel itu tidak murah, lahan satu hektare itu membutuhkan pengairan selama dua hari dua malam dan menghabiskan biaya sebesar Rp100 ribu untuk membeli bahan bakarnya,” timpalnya.
Lahan pesawahan, ujar Solihin, tidak boleh mengalami kekeringan. Paling tidak, setiap tiga hari sekali harus diairi sampai musim panen. “Saya kemarin habis Rp3 juta untuk pengairan pesawahan ini,” ujarnya.
Untuk itu, ia berharap kepada pemerintah dapat segera memberikan solusi kepada petani dalam menghadapi musim kemarau ini. Sehingga, lahan pertanian warga tidak mengalami kekeringan yang dapat berdampak terhadap hasil pertaniannya menurun.
“Semoga saja, musim kemarau segera berakhir agar kami tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan air,” pungkasnya.
Sebelumnya, Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, menghimbau kepada seluruh petani di Kabupaten Sukabumi agar mewaspadai musim kemarau. Pasalnya setiap musim ini, tidak sedikit petani yang mengalami gagal tanam maupun gagal panen.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Ajat Sudrajat mengatakan, dari seluruh lahan pesawahan yang ada di Kabupaten Sukabumi, yang paling berpotensi terancam kekeringan ada di wilayah Sukabumi Selatan.
“Dari 24.000 hektare lahan pesawahan, 20 persen atau 4.800 hektare diantaranya ada di diwilayah Pajampangan. Dan biasanya dimusim kemarau ini rawan terjadinya kekeringan,” jelas Ajat kepada Radar Sukabumi belum lama ini.
Untuk mengantisipasi hal itu, sambung Ajat, pihaknya sudah membagikan sekitar 3.000 mesin pompa air yang berfungsi untuk menyedot air supaya sampai ke lahan pertanian padi.
“Selain itu, kita juga menyarankan kepada petani agar memanfaatkan saluran air secara bergiliran. Sehingga, seluruh pertanian padi di Kabupaten Sukabumi, khsususnya di wilayah Sukabumi Selatan dapat dikelola secara maksimal,” paparnya.(Den/d)






