Kementan Lirik Problem Sawi di Sukabumi

  • Whatsapp
Indra Husni
Koordinator Sayuran dan Tanaman Obat dari Kementan RI, Indra Husni saat diwawancarai Radar Sukabumi.

SUKABUMI – Kementerian Pertanian (Kementan) RI menyoroti serius persoalan petani sawi di wilayah Desa Kebonpedes, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi. Diketahui bahwa harga jual sayuran sawi senilai Rp0 akibat dampak dari penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) padahal sedang memasuki musim panen.

Koordinator Sayuran dan Tanaman Obat dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI), Indra Husni mengatakan, wilayah Kecamatan Kebonpedes merupakan salah satu sentral produksi sawi sepanjang tahun.

Bacaan Lainnya

“Jadi tidak putus petani menanam sawi di sini. Nah, secara produksi wilayah Kebonpedes ini masuk pada sentral produksi dengan produktivitas sawi yang tinggi. Jadi secara budidaya sudah maju petani disini untuk produksi sawi.

Namun untuk urusan harga, itu pasar yang menentukan karena bersifat fluktuatif sesuai dengan permintaan,” kata Indra kepada Radar Sukabumi saat berada di Kantor BPP Kecamatan Kebonpedes dalam kegiatan monitoring bantuan dari Dirjen Hortikultura yang ada di wilayah Kecamatan Kebonpedes.

Menurut Indra, dalam satu tahun mayoritas terdapat beberapa bulan harga sawi itu bagus diatasp BEP dan ada juga bulan-bulan dimana harga sawi itu rendah dibawah BEP. Sementara untuk petani Kebonpedes yang sudah terbiasa menanam sawi secara tahunan itu, mereka harusnya jeli melihat hal tersebut.

“Jadi harus tahu ketika menanam sawi itu bulan apa yang luas. Nah pada bulan apa harus menanam dengan secukupnya saja. Jadi itu menurut kami sudah sesuai dengan apa yang kami sampaikan, bahwa pasar itu merupakan patokan untuk membudidaya sawi,” tandasnya.

Untuk mengantisiapasi agar hal tersebut tidak berulang kembali, langkah preventif seperti sosialisasi kepada para petani akan dilakukan. Bahwa kewenangan Kementrian Pertanian itu ada batasnya.

“Kami itu berada dibatas kewenangann produksi saja dengan tekhnologi yang baik dan manajeman serta budidaya yang baik dan tanggal yang baik, itu akan bisa menguntungkan petani. Nah, ketika itu sudah berada disisi yang lain atau di sisi harga itu sudah yang lain lagi yang menentukannya,” imbuhnya.

Disinggung mengenai permintaan petani soal desakan jaminan harga sayuran. Dirinya menjawab, bahwa dalam penentuan harga sayuran tersebut, kewenangannya tidak ada dalam Kementrian Pertanian.

“Kalau yang saya tahu seperti itu. Jadi Kementrian Pertanian itu merupakan kementrian teknis dan hanya bisa melihat dan mengusulkan secara teknis serta kami hanya bisa menghimbau untuk misalnya daerah itu bisa memperhatikan petaninya dan bisa mendorong penggunaan atau pembelian komoditas pertanian lokal,” paparnya.

Untuk itu, dirinya menilai hal tersebut harus didorong dengan peraturan. Misalnya peraturan Bupati yang mengatur terkait dengan harga jual. Karena hal tersebut bisa membantu para petani. Bahkan, ada beberapa daerah yang dirinya ketahui terdapat Perda, Perbup, Pergub yang mengatur harga jual di tingkat petani.

“Itu sangat membantu petani dan leading sektornya salah satunya itu berada di pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi dan kami harapkan ada keikut sertaan dari pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi untuk mengatuir ini. Karena memang kewenangannya berada di sana,” timpalnya.

Pihaknya menambahkan, agar peristiwa ini tidak terulang kembali dirinya meminta agar memperhatikan permintaan pasar dan petani harus cermat membaca situasi pasar dan tidak terbawa nafsu ketika mereka melihat keuntungan besar.

“Iya kalau terbawa nafsu, biasanya dia mau terus meluaskan tanamannya. Padahal pasarnya sedang anjlok. Jadi dibutukan kecerdasan juga bukan hanya kebawa nafsu, khususnya dalam budidaya holtikultura, salah satunya pada tanaman sawi ini,” pungkasnya. (Den/d)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *