Nayor Terancam Punah

  • Whatsapp

CIBADAK— Menjamurnya angkutan umum maupun angkutan yang berbasis aplikasi online menjadi salah satu faktor utama penyebab terancam punahnya moda transportasi tradisional asal Cibadak, Kabupaten Sukabumi yang dikenal dengan sebutan Nayor.

Salah seorang Kusir Nayor asal warga Kampung Kebonbolo, Rt (3/10) Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Rahmat (61) mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir ini pendapatan usahanya terus mengalami kemerosotan, bahkan uang yang diperolehnya tidak sebanding dengan jerih payahnya dalam menarik nayor selama satu hari penuh.

Bacaan Lainnya

Sedangkan, pendapatan yang dapat diraih setiap harinya hanya berkisar Rp50 ribu. Namun jika tengah beruntung, Rahmat mampu meraup pendapatan hingga Rp100 ribu.

“Jumlah pendapatan yang sangat minim itu pun harus terbagi untuk kebutuhan makan keluarga serta biaya pemeliharaan kuda,”kata Rahmat kepada koran ini, Jumat (2/11).

Lebih lanjut Rahmat mengatakan, dalam satu hari biaya pemeliharaan untuk satu ekor kuda mampu mencapai Rp15.000. Jumlah tersebut digunakan untuk menjaga stamina atau kesehatan kuda dan untuk membeli pakan yang terdiri 1 Kg dedak atau bakatul seharga Rp4.000 serta campuran pakan lainnya seperti rumput dan nasi. “Saat ini penumpang semakin berkurang otomatis berdampak juga terhadap penghasilan,” paparnya.

Di tempat terpisah kusir nayor asal Kampung Bantar Muncang, Desa Sekarwangi, Deden (30) menuturkan, maraknya angkutan umum mulai dari ojeg, angkutan kota (Angkot) hingga taksi online telah memaksa ia maupun juru mudi nayor lainnya harus membatasi jam operasional yakni dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB.

“Penumpangnya pun sangat terbatas, terutama hanya kalangan ibu-ibu yang pulang dari pasar dengan barang belanjaan yang cukup banyak. Untuk kalangan pelajar, biasanya anak sekolah dasar atau taman-kanak-kanak, itu pun tidak setiap hari,”pungkasnya.

 

(bam/d)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *