“Kita sudah datang di tengah-tengah masyarakat, untuk menerima pisang mereka dan membayarkan secara kontan sesuai dengan produksi mereka,” paparnya.
“Jadi untuk pemasarannya, kita sudah langsung proses di sini, bukan hanya tentang pemasaran. Namun juga kita mendiri, tetap di sini supaya bisa menghasilkan pisang. Bahkan di kebun bisa dilihat itu sudah seperti udah di supermarket. Nah itu memang ini hasil petani sendiri loh, bukan pabrik-pabrik yang gede seperti itu,” tukasnya.
Untuk itu, pihaknya kerap sekali memberikan edukasi kepada para petani penggarap, bahwa pisang yang baik tersebut, harus melewati beberapa tahapan, mulai tahap pencucian, tahap seleksi penimbangan dan lainnya. “Lahan saat ini masih 10,7 hektare yang dikelola masyarakat. Iya, kurang lebih ada 13 ribu pohon pisang yang dikelola petani itu. Sementara, harga yang kami terima dari petani itu, per kilogramnya untuk Grade A sebesar Rp3.245 dan Grade B Rp2.245 serta untuk harga Grade C Rp1.745,” timpalnya.
Sementara untuk pemasarannya, pisang cavendish yang ia terima dari petani itu, telah ia jual kembali mulai dari ke pasar lokal hingga ke pasar internasional atau ekspor. Namun, untuk pisang cavendish Sukabumi, telah ia jual ke pasar lokal. Khususnya di wilayah Jabodetabek.
“Iya, karana kebutuhan dalam negeri masih tinggi yah. Untuk produksi Sukabumi ini, sekarang bisa menghasilkan per dua minggunya itu, sekitar 150 sampai 200 boks secara rutin, dan itu terus meningkat. Kurang lebih sekitar 2-3 tonan, karena 1 tonnya 13,5 sampai 14 kilogram,” pungkasnya. (den/d)






