“Iya, kalau ditotalkan kerugian petani itu, ada sekitar Rp2,8 miliar. Nilai kerugian ini, berdasarkan perhitungan para petani di Kedusunan Leuwi Peundeuy dan Kedusunan Padabeunghar, Desa Padabeunghar. Karena, hasil pertanian padi selama lima tahun itu, mencapai sekitar 4.687.500 kilogram gabah atau 4.687,5 ton gabah. Dalam satu tahunnya, 3 kali musim panen raya. Namun, semenjak irigasi itu rusak, petani tidak bisa menanam padi dan tanahnya dibiarkan terlantar,” bebernya.
Warga dan para petani sangat berharap adanya perhatian dari pemerintah, baik daerah maupun pusat, untuk segera memperbaiki saluran irigasi tersebut. “Kalau tidak segera diperbaiki, dampaknya akan makin meluas. Ini menyangkut hajat hidup banyak orang. Kami mohon agar pemerintah segera turun tangan,” pungkasnya. (den/d)






