Sementara itu, salah seorang juru kunci Goa Kuotamaneuh, Unung (57) mengatakan, mayoritas para pejiarah datang ke Goa Kuotamaneuh setiap malam Selasa dan Jum’at. “Mereka datang kesini dengan berbagai tujuan.
Ada yang hanya ingin sekedar mengetahui tempatnya saja. Ada juga yang bersemedi hingga bermalam-malam untuk mengambil berkah. Apalagi, menjelang bulan Maulid, banyak orang yang berkunjung kesini dari manca negara. Seperti, Malaysia, Brunai dan Thailand,” paparnya.
Menurutnya, Goa Kuotamaneuh memiliki nilai sejarah yang dianggap sakral. Sehingga tak ayal lokasi objek wisata religi ini, sering dikunjungi peziarah. “Lokasinya sepi dan tenang, jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota, berada di bawah kaki gunung karang. Karena itu sangat cocok sebagai tempat bersemedi,” bebernya.
Goa Kutamaneuh ini, ujar Unung, diyakini sebagai lokasi sakral. Karena, ia meyakini goa tersebut dulunya merupakan tempat peristirahatan Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi serta anaknya Raden Kian Santang.
“Makanya, nama Kuotamaneuh ini diambil dari makna Kuota atau singkatan dari kata Makuta atau topi raja. Sedangkan Maneuh artinya tetap atau diam pada tempatnya. Apabila disatukan dua kata itu, berarti tempat untuk beristirahat raja,” lirihnya.
Di dalam goa tersebut, terdapat sembilan ruangan yang berbentuk kamar tidur. Konon, kesembilan ruangan tersebut dulunya merupakan tempat peristirahatan keluarga Hyang Prabu Siliwangi. Akan tetapi sekarang menjadi tempat tirakat atau bersemedi bagi sebagian pejiarah yang mempunyai hajat tertentu.





