“Kami ingin menunjukkan bahwa Cicurug bukan wilayah intoleran. Justru di sinilah nilai-nilai persaudaraan antaragama hidup dengan damai,” tegasnya.
Acara ditutup dengan makan siang bersama bergaya liwetan ala santri, di mana para tokoh lintas agama duduk bersila dalam satu hamparan daun pisang, menyantap hidangan yang sama dalam suasana penuh kehangatan.
“Dari meja liwetan ini kita belajar, bahwa perbedaan bukan untuk dipisahkan, melainkan untuk disatukan dalam rasa syukur dan kebersamaan,” pungkas David.(den/d)






