SUKABUMI – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sukabumi, akhirnya angkat bicara terkait aksi sejumlah warga yang melakukan penghancuran puluhan gundukan tanah dan batu yang disebut sebagai makam di Kampung Baru, Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.
Penghancuran sebanyak 41 makam palsu ini, sengaja dilakukan warga. Lantaran, membuat resah warga. Terlebih, bentuk dan kondisi gundukan tanahnya, terlihat seperti baru dibangun dengan tujuan dijadikan sebagai tempat keramat.
Sekretaris MUI Kabupaten Sukabumi, H. Ujang Hamdun kepada Radar Sukabumi mengatakan, terkait dengan makam palsu, bahwa Majelis Ulama Indonesia yang memiliki salah satu peran sebagai penegakan amar ma’ruf dan nahi munkar. Maka, majelis ulama sebagai wahana penegakan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu dengan menegakkan kebenaran dan kebatilan dengan penuh hikmah dan istiqomah.
“Untuk itu, dengan demikian Majelis Ulama Indonesia senantiasa berusaha berubah dan memperbaiki keadaan masyarakat dan bangsa dari kondisi yang tidak sejalan dengan ajaran Islam menjadi masyarakat dan bangsa yang berkualitas,” kata H. Ujang Hamdun kepada Radar Sukabumi pada Minggu (25/08).
“Terkait dengan persoalan kuburan, saya kira bahwa peran tashfiyyah atau pemurnian ajaran ini menjadi penting, apalagi di sana ditemukan makam palsu yang dibuat seolah-olah makam wali namanya perbuatan bohong,” bebernya.
Untuk itu, ia menilai tidak dibenarkan dalam Islam, karena sangat mengganggu terhadap urusan akidah. Terlebih, hal tersebut merupakan bagian daripada perbuatan bohong. “Kita dari MUI, pertama membina dan memelihara kehidupan umat, terutama dalam akidah syariah dan akhlak,” ujarnya.
Selain itu, MUI juga berperan untuk penguatan dan pemberdayaan kehidupan umat dan menyatukan umat. Untuk itu, terkait dengan kuburan palsu tersebut, MUI menilai hal ini sangat meresahkan umat, sehingga perlu ada langkah lebih lanjut perlu diterapkan oleh para pihak agar tidak meresahkan masyarakat. “Ini perlu dilakukan agar tidak mengganggu akidah masyarakat, kalau itu memang benar adanya adalah makam palsu,” pungkasnya. (Den)





