BANDUNG — Pengamat kebijakan publik dari Universitas Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono menilai gerbang bergaya candi bentar di Gedung Sate memiliki paradoks, yakni megah secara visual namun hampa manfaat bagi masyarakat Jabar yang tengah bergulat dengan realitas ekonomi.
Proyek pilar gerbang yang kini masih dalam tahap pembangunan itu, menurut Kristian, mencerminkan ketimpangan fatal dalam politik anggaran antara prioritas pemerintah dengan kebutuhan riil warga.
“Secara fisik tampak megah, seolah menunjukkan ada pergerakan pembangunan. Tapi ketika dibenturkan dengan realitas ekonomi masyarakat Jawa Barat saat ini, itu terasa hampa karena tidak menyentuh akar persoalan publik,” ujarnya di Bandung, Minggu.
Menurut Kristian, lolosnya anggaran ini dalam APBD memang menandakan adanya kesepakatan formal antara pemerintah daerah dan DPRD.
Namun, ia juga mempertanyakan urgensi “mempercantik” pagar kantor pemerintahan di saat daya beli dan kesejahteraan masyarakat sedang membutuhkan stimulus nyata.
Lebih lanjut, Kristian menyebut fenomena ini sebagai proyek “mercusuar” pembangunan yang mengejar efek visual dan simbolik semata.




