BOGOR — Suara Dedi Saefuloh korban tersesat di gunung masih lantang. Tidak terlihat lemas. Ia masih bisa menceritakan kisah dirinya dan rombongan tersesat di Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Lugas dan menggebu-gebu. Dia dengan merinci menceritakan perjalanan dari mulai berangkat, tersesat, dan bisa keluar dari hutan di Kawasan Gunung Gede Pangrango itu.
Dedi menuturkan, ada 16 orang yang melakukan pendakian ke Kawasan Gunung Gede Pangrango. Tujuannya tadabbur alam. Dedi dan rombongan berangkat Sabtu siang. “Bada Zuhur berangkatnya,” katanya kepada Radar Bogor, Senin (29/1/2024).
Dedi mengaku, ia dan rombongan bukan berziarah. Mereka hanya tadabbur alam, masuk hutan menuju curug atau air terjun. Salah satu tujuannya Curug Cijambe.
Selama perjalanan, Dedi dan rombongan membawa perbekalan lengkap. Ada mie instan juga kopi. Namun ia dan rombongan tak banyak membawa perbekalan air minum.
“Lengkap, hanya air saja, karena kan tujuannya ke curug, jadi bawa sedikit,” akunya.
Namun, memasuki Minggu, hujan menguyur kawasan hutan di sana. Kabut tebal, jalan tidak terlihat. Hujan gerimis turun cukup lama. Dedi dan rombongan sempat kehilangan arah. Mereka tersesat. Saat itu rombongan sempat terpisah.
“Tapi ketemu lagi, terus lanjut turun lagi (keluar hutan),” paparnya.
Dedi mengaku, pihaknya tidak sekonyong-konyong masuk kawasan hutan Tanam Nasional Gunung Gede Pangrango secara liar. Ia mengaku melapor ke polisi hutan di sana.
Gunung Gundul
Selama memasuki Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Dedi melihat kondisi hutan yang memprihatinkan. Banyak kerusakan alam ia temui.






