Pengrajin Peuyeum Cimenyan Butuh Bantuan Alat Produksi, Demi Tingkatkan Kuantitas

Pengrajin Peuyeum Cimenyan
Pengrajin Peuyeum Cimenyan, Iin Yuningsih memperlihatkan produk makanan tradisionalnya yaitu Peuyeum Cimenyan. (ist)

BANDUNG  – Pengrajin Peuyeum Cimenyan Kabupaten Bandung membutuhkan bantuan alat untuk produksi, seperti alat pemotong dan pencuci bahan baku. Pasalnya, dalam proses produksi panganan tradisional tersebut masih menggunakan cara manual, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama.

Salah seorang pengrajin Peuyeum Cimenyan, Iin Yuningsih mengatakan, proses pembuatan Peuyeum Cimenyan masih manual. Seperti proses pengupasan bahan baku masih menggunakan pisau biasa. Sehingga jika ada permintaan dengan jumlah banyak, Iin mengaku belum bisa mencukupinya.

Bacaan Lainnya

“Karena lama di pengupasan. Kalau pakai pisau lama banget, misal mengupas singkong sebanyak tiga kuintal itu bisa dari pagi sampai sore belum selesai. Tapi kalau pakai mesin, bisa untuk produksi misalnya lima kuintal atau satu ton sehari juga bisa dapat,” ujar Iin kepada Radar Bandung, Selasa (21/12).

Iin berharap pemerintah bisa membantu produsen peuyeum, misalnya dalam hal pemasaran. Sehingga, eksistensi dari makanan tradisional tersebut dapat terjaga. Disamping alat, pandemi Covid-19 dan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) juga berpengaruh terhadap bisnis Iin. Kata Iin, usahanya tersebut sempat terhenti selama dua tahun.

Dalam sehari, Iin bisa memproduksi 200-300 besek Peuyeum Cimenyan. Produknya tersebut dipasarkan ke wilayah Kota Bandung, seperti toko oleh-oleh, toko makanan dan rest area.

“Dari kemasan, kalau di saya pakai besek. Saat ini permintaan masih lumayan malah makin nambah, cuman kendalanya di alat,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kabupaten Bandung, Ahmad Zaenal Sabarudin mengaku khawatir terhadap eksistensi Peuyeum Cimenyan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Peuyeum Bandung. Ahmad khawatir makanan yang selama ini menjadi icon Kabupaten Bandung itu punah, seperti icon-icon lainnya yang memudar dan kian dilupakan orang.

Kata Ahmad, ada tiga icon Kabupaten Bandung yang hilang. Yakni sebagai penghasil beras unggulan di Jabar, penghasil ikan air tawar dan buah stroberi.

“Sekarang tinggal peuyeum, kami berharap itu tidak tinggal nama alias punah,” kata Ahmad di Soreang, Selasa (21/12).

Dikatakan Ahmad, untuk menjaga agar icon peuyeum Cieunyan ini tidak punah, tentu harus ada campur tangan pemerintah. Seperti bantuan permodalan, kemasan, promosi, pemasaran hingga pelatihan managemen usahanya. Agar keberadaan dan eksistensi peuyeum Cimeunyan bisa dipertahankan secara signifikan.

Ahmad berkeyakinan jika ada perhatian serius dari pemerintah, maka peuyeum yang merupakan hasil perkebunan singkong itu, bisa bertahan dan mengikuti perkembangan zaman. Melalui inovasi dengan menciptakan varian atau makanan baru yang berbahan dasar peuyeum agar tidak monoton dan bisa menarik minat konsumen.

Tak hanya itu saja, keberadaan peuyeum Cimeunyan ini diharapkan dapat merambah pasar yang lebih luas dan bersaing dengan makanan lainnya, agar dapat terus bertahan dan menopang perekonomian masyarakat. Kata dia, selama ini juga peran pemerintah melalui Camat Cimeunyan terus melakukan pembinaan dan membantu masyarakat dengan mengarahkan para perajin peuyeum agar bisa lebih maju.

“Siapa sih yang tidak kenal dengan Peuyeum Cimenyan, semua orang sudah mengetahuinya. Malah sampai keluar Pulau Jawa, keberadaan peuyeum itu sudah dikenal,” tutur Ahmad.

Permasalahannya disini, lanjut Ahmad, sampai sejauh mana komitmen pemerintah untuk mempertahan icon tersebut dan menjadikan prioritas produk unggulan daerah. Tidak hanya sebatas perencanaan tanpa berbuat sama sekali. Tapi bersama-sama dengan para perajin memikirkan sebuah terobosan, misalnya dengan melakukan perubahan dalam kemasan, bentuk, juga penampilan agar menjadi daya tarik tersendiri.

“Terutama berkaitan dengan generasi milenial yang cenderung pemilih dalam mengkonsumsi makanan. Nah ini yang harus sama-sama kita sikapi, bagaimana caranya menjaring pasar milenial tersebut,” pungkas Ahmad.

Reporter: Fikriya Zulfah

Sumber: Radar Bandung

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.