Sepatu pula yang mempertautkan Abdur Rahman dengan sang anak, Rian Riandi, sahabat Rafi Andrian. Juga, sebuah tas ransel yang telah kosong isinya. Dari sana Rahman menuturkan persahabatan sang anak dengan Rafi. Bagaimana kedua anak muda berusia 24 tahun itu sama-sama menyukai sepak bola. ”Memang Rian nge-fans sama timnas. Dia itu ke Jakarta tak ada nelepon,” ujar pria yang juga berasal dari Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, itu.
Sama dengan Epi, Rahman kini hanya berharap bisa melihat jenazah putranya. ”Harapan kami mudah-mudahan cepat ditemukan. Walaupun dalam keadaan apa pun, kami menerima,” ujar Rahman yang tampak tegar.
Mulai pagi hingga sore kemarin, keluarga korban memang berdatangan ke lokasi pengumpulan puing-puing sisa kecelakaan di laut dekat Karawang, Jawa Barat, itu. Mereka rata-rata memeriksa alas kaki, mulai sepatu hingga sandal jepit, yang dievakuasi dari laut.
Terlihat lima pasang sepatu balita warna merah yang dijajar agak rapi. Melihat ukurannya, sepertinya itu untuk anak yang baru bisa merangkak. Ada juga kelompok tumpukan koper, tas, ransel, dan pakaian yang diduga milik korban. Sedangkan di sisi selatan dan utara terdapat beberapa bagian dari Lion Air PK-LQP. Mulai busa kursi, karpet, hingga puing tubuh pesawat.
Tak jarang, petugas menemukan ceceran kulit atau rambut di sela-sela puing bodi pesawat. Misalnya, pengalaman M. Amsori yang menjadi relawan membantu tim Basarnas. Saat memilah dan memilih barang, dia menemukan serpihan kulit atau daging manusia. ”Ukurannya seperti untuk soto,” kata pria paro baya yang juga aktivis lingkungan di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, itu.
Kemarin pagi juga ditemukan baju pramugari Lion Air yang dievakuasi ke tempat pengumpulan itu. Menurut Amsori, sangat mungkin baju tersebut adalah baju cadangan yang diletakkan di koper. Sebab, tidak ditemukan bercak darah yang melekat.



