Setiba di Tapanuli Utara, Leo mendapati masyarakat yang ramah. Sebagai warga asing, Leo merasa masyarakat di sana sangat terbuka. Dia semakin jatuh hati dengan tanah Batak ketika berjalan-jalan di tengah masyarakat.
Tugasnya juga berpindah-pindah: 12 tahun di Parkat-Parlilitan, 15 tahun di Pangururan, Samosir, dan 20 tahun di Tanah Karo. Dia terkesima karena antardaerah, sama-sama Batak, bisa berbeda budaya. Bahkan bahasa.
Niatnya menjadi warga negara Indonesia (WNI) muncul pada 1980-an. Leo mencoba mengajukan permohonan. Namun, permohonan tersebut baru bersambut 14 tahun kemudian. Sejak saat itu dia resmi menjadi WNI.
Semangat baru menjadi WNI membuat Leo semakin giat bermasyarakat. Dia datang ke gereja-gereja Katolik dan bertemu dengan masyarakat sekitar. Pada 1999 Leo akhirnya mendapatkan marga. Sebuah penghormatan dari masyarakat Batak. Pemangku adat memberi nama Ginting Suka.
Kini, di usia 76 tahun, Leo masih bersemangat. Dia terus menulis untuk mengabadikan kebudayaan Batak. Dia juga masih ingin mengumpulkan buku laklak yang konon masih tersebar di berbagai negeri. Saat akhir hayatnya nanti, Leo ingin disemayamkan di bumi pertiwi.
(*/c11/c9/oni)



