Featured

Romo Leo Joosten, Pelestari Budaya Batak Karo

×

Romo Leo Joosten, Pelestari Budaya Batak Karo

Sebarkan artikel ini

Semula, tujuannya hanya ingin agar barang-barang tersebut kembali ke tempat asalnya. Ada artefak, tulisan, dan banyak lagi yang waktu itu berada di Belanda. Yang paling berharga adalah buku lak-lak. Itu merupakan manuskrip yang berisi kisah dan legenda, tulisan sastra, hingga mantra dan ramuan asli Batak. Buku tersebut diperkirakan ditulis pada abad ke-16.

Leo menceritakan, imbauan untuk mengembalikan barang sejarah itu tak butuh usaha keras. Dia cukup menceritakan dan berbicara kepada pemilik barang, lalu barang tersebut bisa berada di tangannya. Namun, pria yang berulang tahun setiap 9 September itu tak bisa membawa buku lak-lak kembali ke tanah air.

Bank bjb Tandamata

Sebab, buku tersebut sudah tua. Harus ada petugas dan ruang khusus agar buku lak-lak tetap awet. Barang-barang yang pulang pun semakin banyak. Belum lagi, ada sumbangan dari masyarakat di tanah Batak. Akhirnya, tebersit ide untuk membuat museum.

Pada 2013 Leo berhasil mendirikan museum yang diberi nama Pusaka Karo. Museum tersebut dulu adalah Gereja Katolik Santa Maria. Koleksi museum itu, antara lain, manekin pengantin dengan baju adat Batak Karo, rumah adat, kain ulos, foto, dan lukisan yang menggambarkan budaya Batak.

”Saya sangat tertarik dengan arsitektur serta budaya Toba dan Karo. Di Samosir dan Tanah Karo belum ada museum yang lengkap,” ungkapnya dengan bahasa Indonesia yang lancar.

Leo juga mendalami bahasa Batak. Tiga kamus bahasa Batak sudah dia tulis. Kamus Batak Toba-Indonesia karyanya terbit pada 2001. Dua tahun berselang, dia menerbitkan Kamus Indonesia-Batak Toba. Pada 2006, Kamus Batak Karo-Indonesia lahir.