Featured

Menengok Usaha Pembuatan Tempe Al Fatih

×

Menengok Usaha Pembuatan Tempe Al Fatih

Sebarkan artikel ini

Tempe-tempenya dijual ke masyarakat sekitar, warung-warung dan para pedagang tempe yang ada di sekitar Sukabumi.”Kalau ukuran kecil saya jual Rp3000 per biji, Rp4 ribu ukuran sedang dan Rp8 ribu ukuran besar,”bebernya.Ia memilih kacang kedelai impor sebagai bahan baku pembuatan tempe.”Biasa beli di toko atau kerabat,”ulasnya.

Menurutnya, kacang kedelai lokal sebetulnya bisa digunakan untuk membuat tempe. Hanya saja, di Indonesia sendiri stok kacang kedelai lokal masih kekurangan sedangkan di negeri ini dibutuhkan 2 juta ton per tahun.Meski alat yang digunakan masih tergolong manual, namun rasa Tempe Al Fatih sangat enak dan sehat. Limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan tempe ia manfaatkan untuk pakan ternak sapi milik warga sekitar.

Bank bjb Tandamata

“Tetapi sekarang tidak ada peternaknya, untuk sementara limbah dari tempe dikubur,”imbuhnya.Saat ini, dirinya belum bisa mempekerjakan orang lain karena alat-alat yang digunakan masih manual, sehingga masih bisa dilakukannya bersama anak-anaknya.

“Untuk meringankan biaya produksi, tahapan pengemasan kami memakai plastik karena lebih mudah, biayanya pun ringan dibanding daun pisang yang harganya bisa mencapai Rp100 sampai dengan Rp80 ribu per kwintal,”ujarnya.Rumah produksi Tempe Al Fatih sudah mempunyai pelanggan tetap.

“Alhamdulillah banyak pelanggan tetap seperti ke warung-warung, rumah makan, Salagombong, Mangkalaya, Gunungguruh dan sekitarnya,”ulasnya lagi.Adapun omzet yang didapatkan per bulan sekitar Rp3.300.000.

“Itu kita dapatkan dalam 22 hari kerja, karena ada liburnya delapan hari. Mudah-mudahan usaha ini bisa berjalan dengan lancar, produksinya lebih meningkat dan kedepannya bisa memakai alat-alat stainless steel,”tandasnya

 

(*/d)