Pria bertubuh gimpal itu juga mengaku, menggeluti usaha kerajinan bambu baru dua tahun. Tentu usia ini sangat muda, bisa sampai ke luar negeri. Namun karena hasilnya menarik, sehingga tak heran bila diusia seumuran jagung, produksinya bisa menembus manca negara. “Baru dua tahun saya menggelutinya. Tapi Alhamdulillah pemasaran sudah sampai ke luar negeri,” jelasnya.
Soal waktu dalam pembuatan kerajinan ini, Martin menyebutkan mendasar pada jenis dan ukuran pesanan. Ia mencontohkan dalam hal pembuatan gazebo. Menurutnya, untuk menghasilkan yang optimal, dirinya membutuhkan waktu paling lama satu bulan. Sebab menurutnya, perlu keuletan dalam pengerjaannya supaya bisa menghasilkan kerajinan yang cantik. Sementara untuk pembuatan tas dan sejumlah peralatan dapur lainnya, ia dengan enteng hanya membutuhkan waktu selama satu hari.
Martin pun tak sungkan membuka rahasia proses pembuatan kerajian itu. Ia menjelaskan, tahapan pertama adalah proses pemilihan bambu yang lurus dan diameternya disesuaikan dengan kebutuhan. Setelah itu, langsung proses pengawetan bambu dengan cara diasap dan dijemur. Selanjutnya dipotong sesuai ukuran, kemudian membuat pola dasar atau kerangka. Sementara untuk bahan penunjang yang lainnya, ia telah mempersipkan tali dari ijuk, alang-alang dan paku.
“Bambu yang digunakan adalah bambu jenis mayan. Karena bambu ini selain tahan patah, jamur dan tahan rayap, juga sangat kuat meskipun disimpan di daerah dengan suhu setinggi apapun. “Kalau basah, bambu mayan akan terlihat hijau. Tetapi, jika sudah dikeringkan akan berubah menjadi putih. Jenis bambu ini sangat cocok digunakan di negara Timur Tengah sesuai dengan suhunya yang panas,” imbuhnya.
Dari hasil kreatifitas yang seumur jagung itu, Martin mengaku dapat menopang ekonomi kehidupan Martin. Dalam satu bulannya, ia selalu mengirim hasil kerajinan sekitar satu kontainer untuk di pasarkan di negara Timur Tengah. “Dalam satu bulan saya bisa menghasilkan lima set. Jika dinominalkan, itu sekitar Rp100 juta,” pungkasnya.
(*/t)



