Laporan Relawan Radar Sukabumi dari Semeru (3)

Gunung Semeru
Sugiono dan Sofiwardhani belum bisa melangsungkan lamaran karena erupsi Gunung Semeru.

Gagal Lamaran Hanya Dalam Waktu Semalam

Dibangun dengan kepercayaan dipatahkan oleh kenyataan. Ungkapan itulah yang saat ini dirasakan dua pasangan muda-mudi asal Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang. Mereka terpaksa membatalkan lamarannya karena menjadi korban erupsi Gunung Semeru.

WAHYU, LUMAJANG

Bacaan Lainnya

Harapan memang tidak selamanya sesuai ekspektasi. Delapan bulan memadu kasih, bukan waktu yang singkat untuk saling memberikan kepercayaan. Kekuatan hati dan kepercayaan merupakan hal yang dapat membantu menguatkan sebuah hubungan menuju ke jenjang yang lebih serius lagi.

Hal itulah yang memantapkan Sugiono (20) warga Kampung Sukosari, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang untuk melamar sang pujaan hati, Sofiwardhani (19) warga Kampung Uranggantung, Desa Jarit, Kecamatan Candipuro.

Namun sayang, niat bagi Sugiono tertelan abu vulkanik yang menghujani kampung halamannya sejak Sabtu (4/12) sore. Di mana, hampir seluruh wilayah yang berdekatan dengan Gunung Semeru tertutup abu vulkanik, hingga beberapa saat.

Rencananya, lamaran Sugiono akan berlangsung pada Sabtu malam jika tidak terjadi erupsi. Bahkan, sebuah cincin hasil dari kerja kerasnya menjadi karyawan di pabrik kayu itu pun, gagal dibelikan.

“Ya, kita tidak tahu musibah akan terjadi seperti ini. Saya hanya bisa pasrah dan menyerahkan semua urusannya kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya.

Sugiono mengaku, sudah mengumpulkan tabungan untuk rencana pernikahan, meski belum tahu kapan momen indah itu dilangsungkan. Saat ini, lanjut dia, hanya fokus pada keselamatan dirinya dan keluarga.

Sang kekasih pun sambung Sugiono, sangat mengerti dengan kondisi yang dialaminya. Bahkan akibat kejadiaan bencana tersebut, komunikasi dengan kekasihnya semakin instensif.

“Biasanya kan seperlunya. Namun sekarang, pacar saya sering nanya kabar, karena kebetulan lokasi saya dekat dengan Gunung Semeru,” tambahnya. Ia berharap, kondisi ini bisa cepat berlalu dan dirinya bisa melangsungkan lamaran seperti yang diharapkan.

Nabiyeu, orang tua Sugiono pun turut merasakan kesedihan yang dialami anaknya ini. Namun dia tetap mendukung niat anak bungsungya tersebut untuk melanjutkan lamaran.

“Kita sudah minta maaf ke pihak sana (keluarga Sofiwardhani) dan kita sudah mantapkan akan melakukan lamaran setelah bencana ini usia,” tegasnya.

Saat ini, Nabiyeu hanya berharap bisa beraktivitas kembali, setelah selama satu pekan hanya terdiam di rumah. “Mudah-mudahan bencana ini segera usia dan tidak berlangsung lama,” imbuhnya.

Ia masih trauma dengan kejadian erupsi ini, sebab kejadiannya begitu singkat dan mengerikan. Namun begitu, Nabiyeu sendiri enggan meninggalkan rumah yang didiaminya selama beberapa tahun lalu itu.

“Saya tidak mengungsi, tapi kalau ada himbauan baru akan pindah. Saat ini anak-anak saya sedang beres-beres dikhawatirkan nanti terjadi bencana lagi,” pungkasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *