FeaturedPENDIDIKAN

Felecia Angie Hosea, Siswa Peraih Emas di Kompetisi APCYS di Thailand

×

Felecia Angie Hosea, Siswa Peraih Emas di Kompetisi APCYS di Thailand

Sebarkan artikel ini

Dua persoalan itulah yang kemudian hendak diselesaikan Felecia sekaligus. Pemikiran putri tunggal pasangan Ike Hanaedy dan Rody Hosea itu sederhana.

Bagaimana jika membuat plastik yang terbuat dari enceng gondok. Menghilangkan permasalahansungai Surabaya sekaligus menanggulangi sampah plastik.

Bank bjb Tandamata

Pengetahuan tersebut didapat dari studi literasi. Dia pernah membaca bahwa enceng gondok mempunyai kandungan selulosa yang jika dicampur kitosan dan gliserol bisa menjadi bahan pembuatan plastik.

Namun, plastiknya berbeda. Lebih elastis, lebih ramah lingkungan dan tidak membahayakan ekosistem. Jika plastik biasa butuh waktu puluhan tahun, bahkan ratusan tahun, untuk penguraiannya di tanah, prototipe plastik hasil olahan Felecia bisa terurai hanya dalam waktu sebulan.

Ide itu menjadi semakin konkret setelah pihak sekolah mendukung penelitiannya. Dia mendapat bantuan apa saja, mulai pelatihan hingga penelitian, untuk mewujudkan ide tersebut.

Felecia lantas mengikuti ajang kompetisi sains di tingkat daerah. Menang. Ikut lagi tingkat nasional. Menang lagi. Selanjutnya, dia mengikuti APCYS di Rayong, Thailand, pada

5–9 Desember lalu. Hasilnya, Felecia menyumbang satu emas untuk Indonesia dan menyisihkan 90 peserta dari negara-negara Asia Pasifik, Amerika, dan Eropa lewat plastik enceng gondok.

Dia lebih suka menyebutnya bioplastik. ’’Tapi, memenangkan kompetisi ini bukan tujuan akhir. Saya ingin masalah sampah plastik dunia bisa teratasi,’’ jelasnya.

Felecia berencana terus mengembangkan penelitiannya. Dia ingin hal-hal yang menjadi musuh ekologi bisa disulap menjadi sesuatu yang ramah lingkungan.

Enceng gondok yang menjadi tanaman pengganggu bisa dimanfaatkan sebagai sesuatu yang fungsional dalam kehidupan manusia sekaligus ramah lingkungan.

Yang terbaru, kini Felecia berencana memanfaatkan enceng gondok sebagai kertas. Sebelumnya, bahan kertas berasal dari kayu yang industrialisasinya pasti membutuhkan pembalakan hutan. Jika ide itu bisa diwujudkan, tentu banyak hutan yang bisa diselamatkan.

Sekolah tentu sangat mendukung rencana Felecia tersebut. ’’Gagasannya juga mengajak orang lain untuk ikut peduli terhadap lingkungan,’’ papar Wakil Kepala Sekolah SMA Cita Hati West Kampus Armand.

Dia mengakui bahwa enceng gondok memang sudah banyak dimanfaatkan masyarakat untuk membuat tas atau barang lainnya.

Namun, Felecia tidak sekadar berpikir cara memanfaatkan enceng gondok, tetapi juga cara menjaga lingkungan dan ekosistem agar bisa lebih baik lagi. ’’Bagaimana mengubah lingkungan, ekosistem dan alam menjadi lebih baik lagi,’’ papar Armand.

(*/c15/ano