Jalan rezeki bisa datang dari mana saja. Elfina Istiqomah Anggraini, misalnya, yang telaten membuat lipatan-lipatan kertas bekas kalender sebelum merangkainya menjadi beragam barang kerajinan.
Dia awal-awal dulu harus membongkar paksa guci milik kakaknya untuk mencontoh pola lipatan. Hasil kriya ini sengaja dinamai cililitas.
DENI KURNIAWAN, Madiun
SEMBARI lesehan, Elfina Istiqomah Anggraini sibuk memotong kalender bekas. Kertas itu sengaja dirajang menjadi lembaran kecil. Dia ambil satu lagi kalender dari tumpukan di dekatnya. Dipotong-potong juga hingga rajangan kertas menumpuk. Potongan kertas itu diambilnya sejumput lalu dilipat-lipat.
“Membuat guci dari limbah kalender,” kata Epi –sapaan Elfina Istiqomah Anggraini.
Ya, gadis asal Desa Bukur, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, itu mampu menyulap limbah kalender menjadi benda bernilai ekonomis.
Jemarinya telaten menggunting, melipat, dan merangkai. Terciptalah guci, vas bunga, dan wadah pensil. Epi mampu mengundang rupiah dari kreativitasnya itu.
‘’Lumayan, itung-itung ikut mengurangi beban orang tua,’’ ujar Epi.
Bungsu enam bersaudara pasangan Achmad Zainuri (alm) dan Siti Mastirah itu mengaku suka dengan kerajinan. Pelajaran keterampilan ketika masih berseragam MAN 2 Kota Madiun menjadi musababnya.
Epi sempat kebingungan saat gurunya memberi tugas agar membuat barang kerajinan.
‘’Tugas untuk akhir semester, tapi di awal semester sudah diberi tahu,’’ ingat mahasiswi jurusan pendidikan matematika di Universitas PGRI Madiun (Unipma) itu.
Epi merasa punya banyak waktu merampungkan tugas tersebut. Kebetulan ada guci milik kakaknya tertinggal saat pulang kampung.
Bahannya dari kertas hingga menggugah rasa penasaran Epi. Guci itu akhirnya sengaja dibongkar.
‘’Ingin mengetahui cara membuatnya, ternyata dari lipatan kertas yang ditata kait mengait,’’ ungkapnya.
Tanpa mau membuang waktu, Epi bergegas menuju gudang di belakang rumahnya. Ditemukan kalender bekas yang segera diguntingnya seukuran kertas guci yang dia bongkar tadi.
‘’Melipatnya mudah, yang sulit merangkainya,’’ aku Epi.
Nyaris satu bulan Epi belajar merangkai lipatan-lipatan hingga membentuk guci. Saban pulang sekolah, potongan-potongan kertas kalender bekas ukuran 9×6 sentimeter menjadi benda yang wajib dipegangnya. Lipatan demi lipatan akhirnya terangkai berkat rajin uji coba.
‘’Saya lapisi bagian dasar dengan kardus agar lebih kuat,’’ ujarnya.
Jari Epi keranjingan melipat kertas. Tanpa kecuali saat berada di dalam kelas sekalipun. Gurunya sempat menegur lantaran mendapati tumpukan lipatan kertas berbentuk segitiga menggunung di atas meja.
Epi akhirnya memilih jam istirahat untuk melipat kertas. ‘’Kalau dapat banyak, di rumah tinggal merakit,’’ jelasnya.
Guci pertama rampung dibuat dengan bentuk lumayan bagus. Namun, kombinasi dan gradasi warna kurang sedap dipandang. Epi yang merasa penasaran akhirnya sengaja membeli limbah kalender.
Sampul buku yang tebal juga dimanfaatkannya. Dia memilih kertas mengkilap yang tebal sebagai bahan baku. Jika dihitung-hitung, butuh 1.430 lipatan kertas untuk membuat sebuah guci setinggi 40 senti. Untuk satu motif yang diinginkan, dia setidaknya perlu 25 lipatan kertas.
‘’Guci dengan motif warna-warni akhirnya jadi juga,’’ kenangnya.
Guci itu sengaja dipajang di sudut ruang tamu menjadi wadah bunga imitasi. Ada tetangga yang tertarik hingga memesan guci berbahan kertas dari Epi.
Harga yang disepakati kala itu Rp 100 ribu. Guci serupa yang dinamai cililitas atau singkatan dari guci lipat limbah kertas itu turut diusungnya sebagai tugas akhir sekolah.
‘’Guru-guru tertarik sampai pesan ke saya,’’ ucapnya.
Epi mematok harga Rp 20 ribu untuk karya seni kriyanya. Mulai wadah pensil, vas bunga, hingga guci. Kebiasaan membuat barang kerajinan itu keterusan saat status Epi sudah mahasiswi.
Pesanan datang dari teman satu kampus dan dosen. Namun, niatnya mengajak sejumlah tetangga menekuni cililitas belum kesampaian.
‘’Banyak yang tidak sabaran melipat banyak kertas. Saya selama ini kerja sendirian,’’ ujarnya.
(mn/mg8/sib/JPR)



