Kata beleq dalam bahasa Sasak berarti besar. Padanannya adalah masjid agung, masjid raya, atau masjid jamik. Namun, secara fisik, masjid yang menurut berbagai literatur berdiri sejak abad ke-17 itu tak bisa dibilang besar. Hanya berukuran 9 x 9 meter. Dengan tinggi sekitar 7 meter.
Arsitektur masjid itu tak ubahnya rumah-rumah kuno masyarakat suku Sasak. Mirip rumah-rumah di kampung Desa Sade, Kabupaten Lombok Tengah, desa adat jujukan wisatawan.
Yang agung dari masjid tersebut adalah sejarah panjangnya dan simbol yang disandangnya. Menurut Ratmanom, penghulu adat Desa Bayan, arsitektur bangunan Bayan Beleq masih terjaga sampai sekarang.
Komponen bangunan yang sama sekali masih asli adalah empat tiang utama dan beduk. Empat tiang berbentuk silinder itu dibuat dari kayu nangka. ’’Kalau pagar dan atap, pernah diganti. Itu pun sudah tahun 1993,’’ tutur Ratmanom.
Dengan arsitektur seperti itu, ketika puluhan ribu bangunan luluh lantak di seantero Lombok akibat rentetan gempa sejak Juli lalu sampai Agustus ini, Bayan Beleq kukuh berdiri. Sama sekali tak ada kerusakan. Justru tembok luar yang terbuat dari semen hancur akibat gempa.
Bangunan khas Lombok, seperti yang bisa dilihat di Desa Sade, memang mengandalkan kayu. Rumah pelari nasional asal Pamenang, Lombok Utara, Lalu M. Zohri yang direnovasi juga demikian. Dan, terbukti mampu bertahan dari guncangan gempa. Saat Jawa Pos ke sana beberapa hari setelah gempa besar kedua pada 5 Agustus lalu, hanya beberapa genting di rumah juara dunia lari 100 meter U-20 tersebut yang runtuh.



