Pengamat dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai, keberadaan kereta bandara sudah memberi pilihan transportasi bagi publik dari dan menuju bandara.
Namun, belajar dari KA bandara pertama yang ada di Kualanamu, Medan, diharapkan masing-masing operator dapat menjaga occupancy (tingkat keterisian penumpang) agar tidak merugi.
“Kekurangan pasti ada, pembenahan harus terus dilakukan. Kita bisa belajar dari yang di Kualanamu. Bagaimana, tiket kereta bandara bisa terjual, meski dengan tarif murah asal tetap ada revenue (pendapatan) ketimbang kereta kosong,” saran Djoko.(rmol)



