SUKABUMI – Di Perum Tiasa Regensi, Desa Limbangan, Kecamatan Sukaraja, berdiri sebuah usaha kecil yang kini menembus pasar Asia. Usaha milik Agung Saputra (40) ini memproduksi tali helm K3, perlengkapan keselamatan kerja yang vital di proyek konstruksi maupun industri.
Perjalanan usaha Agung bermula dari pengalamannya bekerja di proyek, khususnya di departemen keselamatan kerja. Ia melihat bahwa tali helm sering kali menjadi titik lemah: mudah lepas, tidak nyaman, dan kurang lentur. Dari situlah muncul ide untuk menciptakan tali helm dengan bahan yang lebih fleksibel dan aman. “Helm tidak boleh lepas, harus nempel kuat. Saya ciptakan tali yang lentur, lebih nyaman dipakai, dan sesuai standar,” ujarnya.
Sejak pandemi Covid-19, Agung mulai serius melakukan riset dan uji coba. Tahun 2020, ia fokus memproduksi tali helm, yang kemudian diterima di berbagai proyek. Kini, produknya dipasarkan secara online melalui marketplace seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada. Bahkan, pesanan datang dari luar negeri, termasuk Singapura dan Malaysia.
Dengan harga Rp22 ribu hingga Rp50 ribu per unit, Agung mampu menjual sekitar 2.000 tali helm per bulan, dengan omzet rata-rata Rp20 juta. “Senangnya, orderan ramai siang malam. Produksi di rumah, dibantu mitra, dan pegawai merakit serta menjahit secara manual,” katanya.
Perjalanan usaha Agung semakin berkembang berkat dukungan BRI. Awalnya ia meminjam Rp10 juta, kemudian meningkat hingga Rp100 juta melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). “Modal dari BRI sangat membantu, terutama untuk belanja sparepart dari China dan meningkatkan kapasitas produksi,” jelasnya.
Dengan tambahan modal, Agung mampu memperluas jaringan produksi, menambah personel, dan memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat. Kini, ia memiliki 8 hingga 12 pegawai, serta lima mitra yang ikut merakit tali helm.
Meski berkembang, tantangan tetap ada. Persaingan dengan produk lain seperti Crisbow dan Youpek membuat Agung harus terus berinovasi. Selain itu, keterbatasan mesin otomatis membuat produksi masih bergantung pada tenaga manual. “Setiap orang bisa merakit 50 unit per hari. Kalau ada mesin otomatis, produksi bisa lebih besar,” ujarnya.

Usaha ini tidak hanya memberi penghasilan bagi Agung, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Selain itu, produknya berkontribusi langsung terhadap keselamatan kerja di proyek-proyek konstruksi. “Tali helm ini membuat helm lebih aman, tidak goyang, dan nyaman dipakai. Jadi pekerja bisa lebih terlindungi,” jelasnya.
Kepala Unit BRI Unit Sukaraja Cabang Sukabumi, Irwan Maulana, menilai usaha Agung sebagai bukti nyata bahwa UMKM kecil bisa mendunia.
“Pak Agung adalah contoh bagaimana ide sederhana bisa menjadi produk global. Dari rumah di Sukaraja, tali helm K3 buatannya kini dipakai di proyek-proyek besar, bahkan menembus pasar Asia. Ini membuktikan bahwa UMKM kita punya daya saing internasional,” ujarnya.
Irwan menekankan bahwa BRI hadir bukan hanya memberi modal, tetapi juga mendampingi UMKM agar berkelanjutan. “Dengan KUR Rp100 juta, Pak Agung bisa meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar. Dukungan ini penting agar UMKM kreatif seperti ini tetap bertahan di tengah persaingan,” katanya.
Menurutnya, usaha alat keselamatan kerja memiliki nilai sosial yang tinggi. “Produk ini bukan hanya komoditas, tetapi juga menyelamatkan nyawa pekerja. Dengan adanya UMKM seperti ini, standar keselamatan kerja di Indonesia bisa meningkat,” jelasnya.
Menutup komentarnya, Irwan berharap lebih banyak UMKM berani berinovasi. “Kami ingin UMKM di Sukaraja tumbuh dan mendunia. Karena dari inovasi kecil itulah lahir kekuatan besar untuk membangun ekonomi bangsa,” tutupnya.(*)






